SeLamat datangg...


welcome...Sugeng rawuh...verwelkomen..benvenuto...gratus...willkommen...hougei...bem-vindo...

Kamis, 08 Januari 2015

Surat untuk Mbah Kakung#2



Hallo Mbah…..
Apa kabar simbah disana? Pasti sudah amat sangat bahagia sekali ya…hhmm..
Sebenere aku mau nulis surat ini pas 1000hari simbah, tapi simbah ngertos lah, aku, kami amat sangat sibuk untuk mempersiapkan rumah simbah yang baru. 

Iyaa, kami semua sibuk banget mbah. Terutama bapak n ibuk. Banyakkkk orang datang untuk mengenang mbah kakung. Bahkan dari tetangga desa juga datang untuk mengenang mbah kakaung. Banyakkk uluran bantuan dan tanda kasih dari mereka semua. Dari mbah Djono, mbah Dirjo dan semuanya. Oh iya, yang dari Kalimantan pulang semua lho Mbah. Ada Budhe Sri, Pakdhe Adi, Chita, Grace, Pakdhe Kam-Budhe Heli, dan Lek Nyoto. Semua pulang mbah, dan tentunya ada aku juga mbah. :D 

Ehhm….1000 hari, rumah baru buat simbah. “Kenapa harus 1000 hari? Karena 1000 hari adalah tanda kesempurnaan, kelengkapan. Artinya simbah sudah sempurna, sudah bahagia di alam sana….” Yaa mungkin beberapa kata itu yang masih kuingat. 

Iya, mungkin simbah sudah bahagia, dan aku yakin itu. Tapi kok rasa-rasanya aku belum ikhlas ya? Iya, aku tau, aku salah sih kalau aku belum mengikhlaskan dan belum merelakan mbah kakaung pergi, yaaa..tapi…itulah adanya e mbah. 

Maaf ya mbah kalau ketidakrelaanku selama ini (mungkin) menghambat jalan simbah menuju sang Pencipta. Maaf mbah karena aku masih sedih, bahkan misa 1000 hari kemarin pun aku masih sedih. Maaf mbah, aku tidak pernah mau membaca doa umat saat misa ne mbah kakung, kenapa? Yaaa…karena aku ra tekan, dan aku pasti pengen nangis. Maaf mbah. 

“Moy, amoy…” Ahhhgr…aku dan mbak Nana tidak pernah mendengar pujian itu lagi. Hahaa! 

“Aku nunggu kowe re dho bali e!” Ahgr…aku dan mbak Nana juga tidak pernah mendengar kata-kata itu lagi dan melihat mbah kakung masih berdiri di pojokan rumah, padahal udah malam. 

Yaa…rasa-rasanya bukan hanya aku yang masih belum rela dan masih heran kok mbah kakung pergi secepat itu. Banyak yang bilang, kalau simbah punya cekelan, iyo po mbah?? Bahkan Bapak yang serumah dan yang ngurus simbah pun gak tau kalau simbah punya cekelan. Dan aku, cucu yang paling dekat sama simbah, sering nggosip sama simbah pun gak tau kalau simbah punya cekelan. Kok mereka bisa bilang begitu?

Katanya, ada yang sudah merasa kalau simbah mau pergi. Ah sok-soakan banget kan mbah?! Yaa emang sih orang tua-orang tua jaman dulu katanya punya cekelan. Simbah juga po?? Katanya kalau cekelan nya itu dibuang, maka mereka bisa meninggal dengan gampang. Iya kah mbah?? Kok simbah gak bilang apa-apa dulu ke kami?? Kok mendadak sih mbah?? Iya, simbah sama sekali gak ngrepoti sih, tapi itu terlalu mendadak mbah…Kok mbah kakung milih tanggal itu? Kok gak bilang apa-apa dulu ke kami??

Ahh….sudahlah….maaf ya mbah, karna aku masih sedih. Baik-baik di surge ya Mbah Kakung. Doakan kami semua yang masih berjuang ini mbah, beri kami restu untuk setiap rencana kami ya mbah. Salam juga kangge Mbah Putri dan Mbah Dirjo. Selamat bahagia di surge mbah. Kami semua amat sangat mencintaimu :D

Tidak ada komentar: