SeLamat datangg...


welcome...Sugeng rawuh...verwelkomen..benvenuto...gratus...willkommen...hougei...bem-vindo...
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 April 2021

Sisterhood



 sisterhood: kb. persaudaraan/perserikatan wanita. the bonds of s. ikatan persaudaraan wanita.

Itu adalah arti dari sisterhood menurut kbbi online. 

Menurutku, gampangnya adalah persaudaraan wanita, antara aku dan Mbak ku. 

Aku rasa, aku ngga akan pernah tau apa arti dari sisterhood sampai aku benar-benar mengalaminya. Dulu waktu Bulek Yayah (adik dari Ibuk) sakit agak parah dan harus dioperasi, Ibuk ku sangat amat sedih. Dan memaksakan diri harus menjenguk Bulek di Jambi. HARUS! Aku khawatir juga dengan keadaan Bulek, tapi khawatirku tidak seberapa dengan khawatirnya Ibuk. Aku yang saat itu masih lontang lantung ngga jelas langsung bilang ke Ibuk, "Aku temani Buk! Aku belikan tiket (tapi pakai uang Ibuk)!" Jelas dong motifku apa? Pengen jalan-jalan sampai Jambi dong ya! Heheehe....

Sampai sana? Aku langsung istirahat dong ya, apalagi aku malah diare karena salah beli jajanan saat transit di Batam. Ibuk? Ibuk langsung menemani dan ngobrol dengan Bulek,  lamaa banget, rasa2nya Ibuk ngga capek, perjalanan dari Minggir - Bandara Jogja - Batam - Jambi. 

*** 

Hari Senin setelah Paskah kemarin (4 April), Mba Nana WA aku, seperti biasa, tanya kabar dsb, lalu tanya waktu Deo panas dikasih apa. Aku jawab tentang kabar dan tentang Deo. Ku katakan Deo kubawa ke RS. Lalu aku mulai bertanya kabar Mba Nana. Kabar menyedihkan di hari Senin saat aku piket zoom, "Aku panas, nanti kami mau swab".  Degg....aku langsung ngga konsen dengan kerjaanku. 

Ngga lama kemudian, Mba Nana WA lagi, "Kami positif". Positif covid. 

Yaampun Tuhan! Jujur, itu berita yang amat sangat menyedihkan sekali! Mba Nana dan Mas Hadil pindah Banjarmasin sekitar 2 tahun ini, mereka tidak ada saudara, punya dua balita dan sekarang Mba Nana dan Mas Hadil positif covid. Aku sedih, khawatir dan bingung. 

"Semangat untuk Nana dan Hadil yang positif" tiba-tiba WA dari MAs Andri masuk ke WA Grup Keluarga. Aku langsung WA ke MAs Andri, aku bilang dan tanya, nanti kalau Bapak tau gimana? Bapak pasti kaget, khawatir dan sedih. Kayaknya mending dihapus saja deh mas. Ngga lama kemudian Mas Andri menghapus pesan di WA tsb. 

Ya iyalah, pasti seorang Bapak khawatir, kaget dan sedih mendengar anaknya positif. KEnapa Bapak tidak boleh diberi tahu? Karena Bapak sakit jantung, bapak dalam sedang pengobatan dan sedang menunggu antrian untuk operasi jantung. Kami khawatir klo bapak tahu, kondisi bapak semakin drop. 

Aku hanya bisa menyemangati Mbak dan tetap WA  dan VC, menanyakan gimana dengan anak2, udah makan belum, punya makanan ngga dsb. Dan aku menangis! RAsa-rasanya ini kali kedua aku menangis karena Mbak. Menangis karena sedih. (Kalau dulu jaman kecil sih sering banget! Entah aku ditakut2i, atau berkelahi dengan Mbak). 

Sisterhood...

Kamu ngga akan pernah mengerti arti yang sesungguhnya, sampai kamu benar-benar merasa sedih atau terluka dengan keadaannya. 

Jumat, 13 Februari 2015

Menjadi Tuaaa....



           Benar kata banyak orang “Dewasa itu pilihan, tua itu pasti”. Kalau disuruh milih sih aku gak mau jadi tua. Sekarang aja rasa-rasanya aku pengen mbalik jadi anak SD atau SMP aja lah, ketika yang dipikirkan hanya pelajaran (itu pun kalau mau ujian), mengerjakan tugas kelompok dan PR (sambil main-main), extra, dan main-main. Padahal dulu pas masih SD atau SMP pengennya cepat besar, cepat kuliah, cepat kerja, dsb. Ternyata oh ternyata lebih enak jadi anak kecil, tenin wes.
            Tapi kalau mau jadi kecil terus, kapan kita besarnya? Kapan kita dewasanya? Yaaa…kita gak bisa menghentikan waktu atau memutar waktu kembali sih ya. Hidup adalah gratisan paling gratis dari Tuhan. Setiap pagi kita bangun adalah gratisan dari Tuhan. Setiap tahun kita tambah usia adalah gratisan juga dari Tuhan. Dan ketika setiap tahun aku tambah usia, kedua orang tuaku, simbah2 ku juga tambah usia, tambah tua.
            Duluuu, ketika aku masih SD, disekitar rumahku masih ramaii, masih ada kedua simbahku yang tinggal bersamaku, masih ada simbah sebelah kiri rumah, masih ada Yani dan kedua simbahnya, masih ada mbah Mul dan mereka masihh sehat semuaa. Pas masih SD, kalau aku sakit, masih ada mbah putri yang menemani, karena bapak-ibuk berangkat ke sekolah. Ketika ak nabrak pintu, kepalaku berdarah-darah, dan ak nangis2, semua simbah2 di sekitar rumahku datang. Ketika gusi ku dijahit, semua simbah2 disekitar rumahku mengunjungi dan aku pura2 tidur karena pasti aku dimarahi. Ahh…..
            Sekarang? Yaa waktu terus berjalan sih ya. Pas kelas 2 SMP simbah putri meninggal, tahun 2012 lalu simbah kakung meninggal. Simbah disebelah kiri rumah juga udah meninggal lama. Mbah Dirjo kakung meninggal sekitar 7 bulan setelah mbah kakung meninggal. Mbah Mul udah sakit sejak sebelum Mbah Kakung meninggal. Pak Pujo meninggal sekitar pertengahan tahun 2014 kemarin. Yaampun…sekitar rumahku jadi sepi banget. Mas Andri ke Jakarta udah sejak 2010 atau 2011 itu. Dan sekarang Yani ke NTT. Jadi sekarang tiga rumahh yang besarrrr2 di belakang rumahku hanya dihuni 1 orang saja.
            Atau karena aku nganggur jd aku merasa sekitar rumahku jd sepi?*eh… Aku jd khawatir, ketika aku semakin tambah umur, maka kedua orang tua ku juga tambah tua.Tapi, ya begitulah kenyataannya. Aku tidak masalah ketika I have to be a driver for them, ketika ak disuruh manasi mobil, disururuh ngantar ke bank, disuruh ngantar periksa, nunggu opname, nyari & ngecek simbah karena ditlepon gak bisa, dll. Ketika ak hanya bermaksud mampir sebentar tapi akhirnya jadi lama karena ngemil2 dan ngobrol2 dulu. Ketika aku hanya duduk sambil ngobrol. Ketika aku hanya menyapa saat ak lewat samping rumah. Kadang, ak jadi merasa takut dan merinding. Besok bapak-ibuk juga sendirian kayak gini? Besok kalau bapak-ibuk sudah tua siapa yang ngrewangi macem2? Besok kalau bapak-ibuk sudah tua siapa yang ngancani??
            Dulu ketika aku maksa mau ke Kalimantan (iya maksa.wkwkw), Bapak dan Ibuk kayak e berat mengizinkan aku gitu. “Sesuk nek bapak-ibuk ngopo2 sopo sik ngeterke?”sempat Bapak/Ibuk ku bilang gitu. “Yani lah” jawabku sambil tertawa. Waktu itu dia masih kuliah, jadi masih tinggal di rumah. Dan yaa…aku dengar dari cerita bapak-ibuk, Yani memang jadi super sibuk, apalagi setelah simbah kakung e meninggal. Dan pasti dia juga merasa kesepian. “Besok aku main sama siapa mbak?” tanya Yani sebelum aku berangkat ke Kalimantan waktu itu. “Ora sah neng Kalimantan, nggo kanca aku ro Yani” kata Mbah Dirjo putri juga.
            Yaa..intinya aku takut dan khawatir ketika kedua orang tau ku menjadi tua. Aku khawatir kesepian-kesepian yang akan mereka hadapi. “Terus ak nggak takut ketika aku sendiri juga tambah tua?” pertanyaan itu juga muncul dalam diriku. Hehehe…Iyaa, aku juga takut tambah tua, tapi paling tidak kedua orang tua ku dulu yang tambah tua.