SeLamat datangg...


welcome...Sugeng rawuh...verwelkomen..benvenuto...gratus...willkommen...hougei...bem-vindo...
Tampilkan postingan dengan label #AISEIWritingChallenge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #AISEIWritingChallenge. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Desember 2021

Hari Pertama PTM

Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah terbatas setelah ada pandemi virus corona. Sejak malam aku sudah mempersiapkan segala keperluan untuk sekolah. Ada buku pelajaran, alat tulis, masker yang akan kupakai, face shield, masker cadangan dan hand sanitizer. 

Pagi ini, jam 06.30, aku sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Aku tidak membawa makan siang, karena memang tidak dijinkan oleh bu guru. 

"Ibu, aku nggak sabar ketemu teman-teman secara langsung, selama ini lewat zoom terus sih! Ibu, hari ini siapa aja ya yang berangkat ke sekolah?" tanyaku pada Ibu. 
"Iya, tapi jangan lupa tetap jaga jarak sama teman-teman ya. Hari ini ada Peter, Emily, Kyka, Fella, Etta, dan kamu. Jadi ada 6 anak." jawab Ibu. 

"Yaaahh....Aku ngga kenal semua. ngga ada teman TK aku!" jawabku sedih. "Ibu, aku hari ini zoom lagi aja ya?" lanjutku. 
"Lho, kenapa?" tanya Ibu bingung.

"Ngga ada yang aku kenal bu. Nanti aku ngga punya teman." jawabku. 

"Achi, kan hampir 3 bulan ini kalian sudah berteman, kalian hampir setiap hari ketemu, walau via zoom. Yuk kita berangkat, nanti keburu telat lho!" kata Ibu sambil mengambil kunci motor. 

Akhirnya, aku berangkat sekolah lagi, setelah lebih dari 1,5 tahun hanya via zoom. Ada rasa takut, senang dan deg-degan. 

Sampai di sekolah, Pak Satpam langsung mengecek suhu tubuhku, setelah itu aku diminta untuk cuci tangan terlebih dahulu. 

"Bersenang-senang dan belajar ya, Achi!" kata Ibuku sambil melambaikan tangan. 
"Tapi aku takut, Bu!" kataku pada Ibu. 
"Semua akan sangat baik padamu dan bertemu langsung dengan teman-teman serta bu guru lebih menyenangkan dari pada zoom!" kata Ibu. 

Aku lalu cuci tangan kemudian menuju kelas ku, kelas 1B. Sekolahan dan ruang kelas yang sudah asing bagiku. 

"Hi Achi, sini masuk" sapa Bu Guru. 

Aku masih terdiam di depan kelas, sudah ada teman-temanku. Tapi tetap saja, aku takut. 

"Hai, Achi..sini-sini! Duduk di sini!" kata Fella sambil menunjukan bangku yang kosong. 

Dengan takut, aku menuju bangku tersebut. Peter, Emily, Etta, Fella dan Kyka sedang ngobrol dengan asyik, tapi tetap jaga jarak. Aku hanya memperhatikan mereka. 

"Eh Achi, kamu membawa buku pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia tidak?" tanya Kyka. 

"Iya, bawa." jawabku singkat. 

"Hayoo anak-anak, boleh ngobrol tapi tetap ingat untuk jaga jarak dan tetap memakai masker ya!" kata Bu Guru dengan ramah. 

"Hehee...iya bu guru!" jawab Peter sambil tertawa. 

Ternyata benar kata Ibu, bertemu dengan teman-teman dan bu guru secara langsung lebih menyenangkan. Walaupun aku dari TK yang berbeda dengan mereka, mereka sangat baik dan ramah padaku. Aku suka pelajaran tatap muka!



Minggu, 12 Desember 2021

Sepeda Dhani

   

    BRAKK! Dhani membanting sepeda yang selama ini dia pakai untuk pergi ke sekolah. Baju seragam putih nya basah oleh keringat. 

    "Kamu kenapa, Dhani?" tanya Ibu dari dalam rumah. 
    "Dhani capek!" jawab Dhani sambil membanting tas lalu mencopot sepatu. 

    "Iya, tapi ngga dibanting-banting gitu dong! Itu sepedanya rusak kalau kamu ambrukin kayak gitu." kata Ibu sambil melihat sepeda yang masih dalam keadaan ambruk. 

    "Bu, aku ngga mau ke sekolah naik sepeda itu lagi. Beliin sepeda baru bu, yang kayak punya teman-teman." kata Dhani. 

    "Kenapa sih, kok tiba-tiba minta sepeda baru? Kemarin-kemarin kamu pakai sepeda kakek itu juga ngga apa-apa". 

    "Tadi aku diejek dan diketawain sama teman bu. Katanya sepedanya Dhani aneh sekali, kayak sepeda simbah-simbah. Warnanya kusam, nggak kayak punya teman-teman yang lain. Lalu teman-teman langsung ngelihat Dhani, terus mereka ngetawain Dhani." jawab Dhani, tak terasa air mata sudah memenuhi kelopak matanya. 

    "Kamu ganti baju, cuci kaki dan tangan, lalu makan ya. Ibu tunggu di meja makan", kata Ibu sambil membelai rambut Dhani. 
    "Habis itu beli sepeda ya, Bu!" kata Dhani. Ibu hanya tersenyum. 

***

    Dhani mengambil nasi. lauk dan sayur. Bersiap untuk makan siang. Ibu menemani di meja makan. 

    "Dhani, kamu tahu kan sepeda yang kamu pakai itu punya siapa?" tanya Ibu. 

    "Punya kakek kan!" jawab Dhani. 

    "Iya, itu sepeda kakek. Sepeda kakek itu bersejarah lho, dulu kakek sama nenek sering naik sepeda itu untuk ke pasar, berjualan baju. Dan sekarang, sepeda itu masih bisa kamu pakai, itu tandanya sepeda itu awet dan kuat lho!" kata Ibu. 
    "Hah..bersejarah karena dulu dipakai untuk pergi ke pasar gitu bu?" tanya Dhani. 

    "Iya! Selain itu, kamu tahu nggak kalau kakek kita itu salah satu pahlawan Indonesia lho! Kakek ikut berjuang melawan penjajahan Belanda." kata Ibu antusias. 

    "Oh itu, dulu kayaknya kakek pernah cerita sih, tapi aku agak lupa. Emang iya kakek ikut berperang melwan Belanda?"

    "Iya dong! Dan kamu tahu ngga, sepeda kakek itu, yang kata teman kamu "sepeda tua, kayak sepeda simbah-simbah dan warnanya sudah kusam" itu, dulu juga dipakai saat kakek masih berjuang melawan penjajah." tambah Ibu. 

    "Masak sih kakek perangnya pakai sepeda? Kan penjajah pakai tank, langsung kalah dong kakek?" tanya Dhani serius. 

    "Yaa, maksud Ibu bukan saat perang pakai sepeda gitu. Tapi, sepeda itu sangat berjasa dan sangat bersejarah. Sepeda yang kamu pakai itu adalah sepedanya salah satu pahlawan Indonesia lho. Kamu seharusnya bangga dong pakai sepeda kakek." kata Ibu sambil tersenyum. 

    Selesai makan, Dhani langsung membereskan piring. Dhani ke luar rumah dan membawa sepeda tua milik kakeknya ke dalam rumah. 
    "Yuk, kita berangkat sekarang Dhani?" tanya Ibu. 

    "Hah, berangkat kemana Bu?" tanya Dhani bingung. 

    "Beli sepeda baru!" jawab Ibu sambil tersenyum. 

    Dhani tersenyum, membersihkan sepeda tua penuh sejarah milik kakeknya. "Ngga jadi Bu. Mungkin tadi karena aku capek dan lapar aja, lalu ada teman yang bilang begitu, jadi aku langsung marah. Aku ngga apa-apa kok pakai sepeda ini. Setelah mendengar cerita ibu tadi, aku justru bangga menggunakan sepeda tua ini. Sepeda bersejarah milik salah satu pahlawan Indonesia." kata Dhani sambil menegluarkan sepedanya. 

    "Lho, sekarang kamu mau kemana?" tanya Ibu bingung. 

    "Aku mau sepedaan bu!" jawab Dhani sambil tersenyum lalu mengayuh sepedanya. 




    

Selasa, 19 Oktober 2021

Nilai Sempurna Achi

 

Achi berjalan sendirian dengan sangat lesu dan sedih. Sinar matahari yang menyengat, bekal air minum dan uang saku yang habis rasanya menambah kesedihannya. Seragam merah dan putih yang ia kenakan juga berantakan. Teman-teman yang lain sudah pulang duluan.
            Tadi, sebelum pulang, Bu Sri memanggil Achi untuk datang ke ruang guru.

“Kamu ada masalah apa, Achi? Mungkin kamu bisa cerita ke Ibu.” kata Ibu Sri. Dengan muka bingung, Achi menggelengkan kepala. Bingung, kenapa tiba-tiba Ibu Sri menanyakan hal tersebut. Lalu Bu Sri memberikan selembar kertas, hasil penilaian pelajaran Matematika. Angka 30 menghiasi bagian atas kertas tersebut. Achi tidak tahu, harus berkata apa dan dia juga tidak tahu harus menjelaskan apa kepada Ibunya.

Sesampainya di rumah, Achi langsung memberikan kertas tersebut kepada Ibunya.

“Maaf bu!” kata Achi lesu. Ibu langsung mengambil kertas tersebut, dengan muka kaget Ibu langsung bertanya, “Ini kenapa nilai kamu seperti ini Achi? Bisa cerita ke Ibu?”

“Aku ngga tau, Bu. Maaf.” jawab Achi singkat.

“Coba Ibu lihat buku latihan Matematika kamu.” kata Ibu. Achi langsung mengambil buku latihan Matematika yang ada di tas lalu menyerahkan kepada Ibunya. Ibu melihat semua hasil pekerjaan di buku tersebut.

“Ini, kamu bisa mengerjakan semua latihan ini bahkan tulisan sangat rapi, tidak ada bekas coret-coretannya. Lalu kenapa kamu tidak bisa mengerjakan saat penilaian?” tanya Ibu dengan penasaran. “Rasanya baru kali ini kamu mendapat nilai seperti ini? Kemarin-kemarin juga tidak ada laporan apa=apa dari Bu Guru.” tambah Ibu.
            Masih diam, Achi mengambil satu buku lagi dari dalam tasnya. Tanpa berkata apa-apa, Achi menyerahkan buku tersebut ke Ibunya.

“Maaf bu, aku mau mengaku dosa. Achi udah nggak jujur Bu. Jadi beberapa waktu yang lalu Achi menemukan buku Kak Nadine. Setelah aku lihat-lihat ternyata soal-soalnya sama dengan soal-soal yang selama ini Bu Guru berikan padaku. Jadi setelah itu, Achi selalu mencontek dari buku Kak Nadine ini dan Achi ngga pernah belajar, ternyata Achi nggak bisa ngerjain soal pada saat penilaian. Maaf bu!” kata Achi dengan lesu.

“Achi, Ibu kecewa lho sama kamu. Kamu nggak jujur sama diri kamu sendiri. Kamu bisa mengerjakan soal-soal latihan itu tanpa melihat buku kayak kamu. Kalau kamu mencontek saat mengerjakan latihan, kamu pasti akan kesusahan saat mengerjakan soal penilaian. Kalau nilai kamu seperti ini, siapa yang rugi? Kamu sendiri kan?” kata Ibu.

“Iya bu. Maaf. Achi janji nggak akan melakukan hal seperti ini lagi!” jawa Achi.

“Ingat ya Achi, kalau kamu nggak jujur, yang rugi adalah kamu sendiri.” kata Ibu.

Sejak saat kejadian itu, Achi selalu bertindak jujur. Dia tidak pernah mencontek buku Kak Nadine lagi. Dia mengerjakan sendiri soal-soal yang diberikan oleh Bu Guru. Achi selalu ingat akan kata-kata Ibunya bahwa,”kalau kamu tidak jujur, yang rugi adalah kamu sendiri.”

Siang itu Achi berjalan dengan santai. Siang yang sama seperti beberapa hari sebelumnya, dengan bekal air minum dan uang saku yang habis juga, tapi hatinya tenang. Dilihatnya hasil lembar penilaian pelajaran Matematikanya. Nilai 75 menghiasi bagian atas kertas tersebut. Nilai yang jauh dari kata sempurna, tapi dengan sempurna dia bertindak jujur.

 


 

Kamis, 30 September 2021

Indri ingin Menang Sendiri

   Pelajaran pertama hari ini adalah olahraga. Pelajaran yang paling disukai anak-anak karena mereka bisa berlari-lari dan tidak perlu duduk diam di kelas. Anak-anak sudah berbaris rapi di lapangan basket.

“Anak-anak, hari ini kita akan bermain basket!” kata Pak Pur, dan disambut dengan sorak-sorai anak-anak. Mereka sangat suka bermain basket. Lalu Pak Pur membagi anak-anak kelas 6 menjadi 2 tim. Yang sedang tidak bermain, bisa menjadi suporter bagi tim mereka. 

Kapten dari tim pertama adalah Indri dan tim kedua adalah Puji. Indri dan Puji termasuk atlet di sekolah itu. Hampir semua cabang olahraga bisa dikuasai oleh mereka berdua.

Tim pertama dan tim kedua segera pemanasan sebelum melaksanakan pertandingan. Tidak lupa Indri dan Puji juga memberitahu tim mereka trik-trik saat nanti bertanding.

Prittt….prittt….pritt….. “Ayo segera berkumpul dan menempati posisi masing-masing, pertandingan akan segera dimulai.’’ kata Pak Pur. Anak-anak langsung menempati posisi mereka. Para suporter juga langsung menuju sekitar lapangan basket.

Pertandingan antara tim Indri dan tim Puji sangat seru. Skor kedua tim pun saling kejar. Permainan Indri sangat bagus, tapi dia terlalu menguasai bola. Dia jarang mengoper bola basket ke teman-temannya. 

“Indri...Indri siniii…” berkali-kali teriakan itu terdengar di lapangan.

“Indri, oper bola ke temannya.’’ hampir berkali-kali Pak Pur meneriakan hal tersebut ke Indri. Tapi ternyata Indri asyik main sendiri. 

Sasha dan Emily, anggota tim Indri mulai saling pandang. “Kok dia jadi main sendiri sih? Ngga mau oper bola ke kita!” bisik Sasha

“Iya, kenapa sih? Atau karena dia merasa paling bisa main basket diantara kita?” Tanya Emily.

Pertandingan semakin seru dan panas, waktu bermain masih 10 menit, dan skor mereka masing saling kejar. Tapi, ternyata Indri sudah kelelahan karena dari tadi dia tidak mau mengoper bolanya kepada teman-temannya. Skor tim Indri tertinggal jauh dari tim Puji.

Prittt...prittt...prittt…. Tanda permainan sudah selesai. 

"Huhh...gimana sih kalian? Kita kalah kan!” kata Indri kepada teman-temannya.

“Kamu tu yang gimana? Jelas-jelas ini permainan basket, ini permainan tim, kerja sama, kamu ngga bisa main sendiri!” kata Emily

“Kalian lihat kan, dari tadi aku berjuang sendirian, kalian dimana?” tanya Indri dengan nada marah

“Kami dimana? Jelas-jelas dari tadi kami sudah berteriak-teriak supaya kamu mengoper bola kepada kami lho! Kamu aja yang egois, maunya main sendiri!” jawab Sasha.

“Kalian ya …” kata-kata Indri terhenti karena tiba-tiba Pak Pur datang. 

“Indri, dalam bermain basket kamu tidak bisa bermain sendiri, kamu tidak bisa ingin menang sendiri, karena ini permainan yang memerlukan kerja sama. Walaupun kamu bisa bermain basket dengan sangat bagus, kamu bisa berlari dengan kencang, tapi kalau kamu tidak bisa bekerjasama, itu percuma.’’ kata Pak Pur. 

“Iya, Pak Pur. Indri maunya menang sendiri. Pasti karena dia bisa bermain basket, terus jadi ngga nganggap kita. Jadi kita kalah deh. Dia ngga mau kerja sama sih!” tambah Emily lagi. 

Indri hanya terdiam, dia melihat teman-temannya. Lalu dia melihat timnya Puji. Mereka terlihat sangat kompak. Indri lalu menyadari bahwa dia terlalu egois dan dia tidak mau bekerja sama dengan teman-temannya.

“Maaf ya teman-teman, aku tidak bekerjasama dengan kalian, tim kita jadi kalah deh! Jujur, aku memang mau menunjukan kepada semua orang bahwa aku bisa bermain basket dengan sangat bagus dan aku bisa berlari dengan sangat cepat. Maaf ya.’’ kata Indri dengan menyesal

"Sudah-sudah, ini kan sudah berlalu, yang penting besok lagi kita harus bisa bekerjasama jadi kita bisa mendapatkan hasil yang lebih bagus.’’ kata Sasha.



 


Minggu, 26 September 2021

Sajadah Ayah Saka

Hari Jumat ini, Saka dan teman-temannya akan mengerjakan tugas Seni Musik di rumah Saka. Mereka diminta membuat miniatur sebuah panggung pertunjukan musik. Sepulang sekolah, Saka, Andre, Imam dan Arya membeli peralatan yang akan digunakan untuk membuat tugas tersebut. Setelah itu mereka langsung menuju rumah Saka. 

Hidangan makan siang yang lengkap sudah tersedia di meja makan. 

“Wahh, terimakasih sekali tante, tau aja kalau kami sudah lapar’’ kata Andre sambil melihat hidangan lengkap yang ada di meja makan. Saka menaruh peralatan yang akan mereka gunakan untuk membuat miniatur panggung, ganti baju, lalu menuju meja makan. 

“Yuk kita makan dulu, teman-teman!” ajak Saka sambil hendak mengambil piring. 

“Eitts, semuanya harus cuci tangan terlebih dahulu ya, berdoa lalu makan.’’ kata Ibu Saka tiba-tiba. Lalu Saka dan teman-temannya bergantian menuju kamar mandi untuk cuci tangan. Setelah semua cuci tangan, mereka berdoa lalu makan. Walaupun mereka berbeda keyakinan, di sekolah mereka juga selalu makan bersama dan saling mengingatkan untuk selalu berdoa sebelum dan sesudah makan. 

Selesai makan, mereka langsung menaruh piring-piring kotor di tempat cucian piring dan mulai membuat panggung miniatur. Mereka asyik berkreasi membuat miniatur panggung pertunjukan musik. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 5 sore, tugas mereka sudah hampir selesai. 

“Teman-teman, aku pulang dulu ya. Udah mau maghrib.’’ kata Imam sambil merapikan barang-barangnya. Belum selesai Imam merapikan barangnya, hujan turun dengan derasnya, disambut angin dan petir. 

“Eh hujan kayak gini, nanti aja pulangnya. Biar Ibuku ngasih tau kalau kalian masih di sini ya.’’ kata Saka lalu mencari Ibunya. Ibu Saka sudah menghubungi orang tua Andre, Imam dan Arya. Nanti Ayahh Saka akan mengantar mereka bertiga pulang. 

Tepat saat adzan berkumandang, Saka dan teman-temannya menyelesaikan tugas mereka. Hujan masih cukup deras. 

‘’Aku sama Arya mau ke masjid dulu ya. Ini udah ngga deras kok.’’ kata Imam sambil bersiap keluar rumah.
“Eh masih hujan ini, biar diantar Ayah ku aja ya.” kata Saka. Tiba-tiba Ayah Saka keluar dari kamar sambil membawa sebuah benda, ‘’Kalian sholat disini saja. Ini pakai sajadah punya om.’’ kata Ayah Saka. 

“Kok Ayah punya sajadah?” tanya Saka heran. 

“Loh, Om kok punya sajadah? Kan Om beragama Hindu?” tanya Arya bingung.

“Iya, teman-teman Om banyak yang beragama muslim. Dulu waktu belum menikah dan tinggal di kost, teman-teman Om sering main, jadi Om siapkan sajadah, biar mereka bisa berdoa di kostnya Om.” jawab Ayah Saka. 

“Wah, Ayah kamu keren sekali, Sak!” kata Andre. 

“Sekarang Imam dan Arya shalat dulu di kamarnya Saka. Nanti habis itu, Om antar kalian semua pulang ke rumah.’’ kata Ayah Saka. 

“Terimakasih, Om.’’ kata Imam dan Arya hampir bersamaan. 

Imam dan Arya segera mengambil air wudhu di kamar mandi, lalu shalat di kamar Saka. Selesai shalat, Ibu Saka sudah menyiapkan makan malam untuk mereka. Mereka makan bersama, selesai makan, Ayah Saka mengantar Andre, Imam dan Arya pulang. Saka dan teman-temannya senang sekali karena tugas mereka sudah selesai. 





Senin, 13 September 2021

Kertas untuk Kei

Hari ini anak-anak kelas 2 sudah tidak sabar untuk mengikuti pelajaran Art&Craft. Kemarin Pak Ian, guru Art&Craft, sudah mengingatkan bahwa anak-anak harus membawa kertas asturo, spidol dan juga aneka hiasan yang bisa digunakan. 

Pelajaran yang anak-anak tunggu pun tiba juga. Semua sudah mempersiapkan peralatan mereka di atas meja. Beraneka macam warna kertas asturo dan hiasan ada di kelas itu. Ada yang membawa gliters, beraneka macam pita, dan stikers. 

Pak Ian langsung menjelaskan apa yang harus mereka buat dengan kertas asturo, spidol dan hiasan-hiasan tersebut. Semua anak langsung mengerjakan dengan gembira. Ada yang saling melihat pekerjaan teman-teman yang lain. 

"Kei, ayo dikerjakan dulu tugasnya! Peralatanmu mana?" tanya Pak Ian pada Kei. Kei hanya diam saja, melihat Pak Ian dan tidak lama kemudian air mata mengalir dari matanya. ''Lhoh kamu kenapa? Kok malah nangis?'' tanya Pak Ian lagi. 

Melihat Kei yang menangis, teman-teman Kei langsung menghampiri Kei. 

''Mungkin dia tidak membawa kertas, Pak!'' jawab Kleon. 

"Oh iya, Pak. Mungkin dia tidak membawa peralatannya Pak. Kei, ini pakai punyaku aja. Aku bawa 2 kok.'' kata Eva. 

"Oh, kamu tidak membawa peraalatan ya? Kenapa? Kan dari kemarin sudah Pak Ian ingatkan untuk membawa peraalatan.'' tanya Pak Ian. 

Tangis Kei semakin pecah. Kelas menjadi semakin riuh. Semua teman-teman mendatangi Kei. 

''Kei, besok lagi jangan lupa siapkan peralatan yang harus kamu bawa ke sekolah ya. Sekarang kamu bisa pakai kertasnya Eva atau kertasnya Pak Ian ini.'' kata Pak Ian sambil memberikan kertas untuk Kei. 

Tangis Kei tetap pecah, dia tidak mau menerima kertas pemberian teman-temannya dan pemberian Pak Ian. Dia tidak mau melakukan apa-apa, hanya menangis. 

"Mama mana? Aku nunggu Mama. Kenapa Mama ngga bawain kertas untukku?'' tanya Kei sambil menangis. Pak Ian dan teman-teman membujuk Kei supaya mau menggunakan kertas milik teman-teman atau milik Pak Ian, tapi Kei tetap tidak mau dan hanya menangis. 

Tiba-tiba Chloe keluar kelas sambil membawa kertas asturo. ''Mau kemana kamu?" tanya Pak Ian. 

''Mau ke toilet, Pak.'' jawab Chloe. Lalu Chloe keluar kelas. Tidak lama kemudian dia masuk kelas lagi dan mendatangi Kei. 

''Kei, ini kertas asturo kamu, tadi waktu aku ke toilet ketemu sama mama kamu. Mama kamu nitip ini buat kamu. Sepertinya mama kamu tergesa-gesa, jadi langsung pergi.'' kata Chloe sambil menyodorkan kertas asturo berwarna merah muda, warna kesukaan Kei. 

"Benarkah? Tadi mama kesini?'' tanya Kei lagi.

''Iya. Yuk sekarang kita bikin prakarya. Ngga usah nangis lagi.'' kata Chloe. 

Chloe segera duduk di kurisnya dan melanjutkan mengerjakan prakarya. Kelas menjadi kondusif lagi. Teman-teman yang lain juga kembali fokus mengerjakan prakarya mereka masing-masing. Kei, dengan mata yang masih sembab mulai mengerjakan prakaryanya. 

''Thank you, Chloe. You've got such a kind heart!''








Jumat, 13 Agustus 2021

Merdeka Mengajar #1


Sebagai seorang guru, kata-kata "merdeka mengajar" masih menjadi tanda tanya besar bagi saya.

 Apakah maksud dari merdeka mengajar? 
 Menurut Theofilus Wage dalam bukunya yang berjudul ''Menjadi Guru Merdeka'', ada beberapa ciri/kriteria guru yang merdeka, yaitu guru bebas dari beberapa hal, yaitu: 
 1. rasa takut 
 2. ingin menjadi seperti 
 3. ketergantungan kepada pihak lain. 

 Dan juga bebas untuk: 
1. mencari kedalaman diri. 
2. mengambil bukan hanya kesimpulan tetapi kedalamandan kearifan. 
3. mengembangkan kedalaman tugasnya. 
4. mengembangkan profesinya. 
5. mengemukakan pendapat dan berorganisasi. 
6. menjaga harga diri 
7. memberdayakan. 

 Tetapi, sekoalah jaman sekarang/orang tua jaman sekarang mungkin berbeda dengan jaman dahulu. Jaman dahulu, rasanya biasa dimarahi oleh guru, mungkin kalau sekarang ada beberapa ortu yang protes atau marah-marah ke guru, terlebih lagi masa pandemi ini. 
Sekolah online, anak-anak di rumah, ortu wfh, jumlah anak zoom banyak, anak ngga memperhatikan, dan masih banyak hal lagi. Lalu ortu protes ke guru. 
Guru pasti ada rasa takut dan sebel juga kan ya. 

Guru juga bebas untuk mengembangkan diri dan mengembangkan profesinya. Tapi dibalik seorang guru, tugas tidak hanya mengajar, tapi ada rapat, ada kegiatan sekolah yang kadang membutuhkan waktu dan tenaga yang luar biasa, koordinasi dengan ortu, ngecek tugas siswa dan tentunya menyiapkan materi. Nah kadang menyiapkan materi justru terakhir karena adanya begitu banyak tugas sekolah yg harus dilaksanakan dan diselesaikan. 

 
Semoga saya bisa menemukan makna merdeka mengajar!