SeLamat datangg...


welcome...Sugeng rawuh...verwelkomen..benvenuto...gratus...willkommen...hougei...bem-vindo...

Senin, 18 Oktober 2021

Refleksi PD 2

Hari Sabtu, 16 Oktober 2021, ada PD ke 2 yang dilaksakan di gedung Secondary. 
Materi yang kedua adalah tentang Refleksi Quarter 1 yang dibawakan oleh Ibu Capri. 

Ada 1 pertanyaan refleksi yang harus kami jawab, yaitu tentang perubahan yang terjadi setelah 3 bulan ini? Tentunya ada banyak sekali perubahan dalam 3 bulan ini. Tahun ini adalah tahun pertama kami menggunakan Pearson, tahun pertama sebagai sekolah SPK, dan tahun ini, masih pembelajaran online. 

Jadi, apa perubahan dalam 3 bulan ini? 

Tahun ini, penggunaan buku cetak lebih flexible karena sudah ada e-book yang bisa saya buka setiap saat. Tahun ini, saya juga memaksakan diri untuk belajar dan menggunakan aplikasi-aplikasi permainan yang menarik supaya anak-anak tidak bosan. Tahun ajaran sebelumnya (juga sudah online), alur dari kegiatan belajar hampir selalu sama. Kami menggunakan buku yang sama dengan tahun sebelumnya. Buku harus ada saat saya mengajar, karena memang tidak ada e-book. Aplikasi yang saya gunakan juga seadanya, bahkan jarang menggunakan aplikasi-aplikasi permainan dsb. 

Selain itu, 3 bulan ini kami juga sudah terbiasa dengan 10 menit reading time. Untuk bahan bacaan di kelas 1, saya merasa sangat terbantu dengan adanya ActiveLearn. Setiap reading time saya selalu menggunakan cerita-cerita yang ada di platform tersebut. Platform tersebut sangat membantu karena kita bisa memilih bacaan untuk tiap level. Untuk kelas 1, masih full of pictures yang sangat menarik, kata-kata simple dan ada beberapa soal yang berhubungan dengan bacaan tersebut. Tahun sebelumnya (saat sudah online), kami tidak ada reading time, jadi ketika pelajaran 1, langsung masuk ke materi. Tetapi, saat sebelum online, kami juga ada reading time. 

Tahun ini, kami juga dituntut untuk lebih bisa beradaptasi dengan banyaknya perubahan yang ada. Mulai dari jam kerja sampai dengan acara kesiswaan. Kami seperti menjadi EO, sampai sempat terpikir, "Kenapa sekolah tidak hire orang untuk menjadi EO saja, lalu para guru jadi pelaksananya?" Karena sekarang ini menyiapkan suatu kegiatan benar-benar membutuhkan proses yang panjang, harus benar-benar mendetail dan kadang menguras emosi. Tapi seiring berjalannya waktu selama 3 bulan ini, rasanya kami bisa menyesuaikan diri, kami bisa beradaptasi. Dan semoga kami bisa survive :) :)
Kami, eh saya jadi lebih menyadari bahwa kerjasama tim itu sangat penting. Dan, tidak ada salahnya memberi masukan kepada teman. 

Tahun ini kami juga dituntun untuk bisa lebih mandiri dan kreatif. Ada banyak hal yang bisa kami pelajari. Dulu, kalau tidak tahu atau tidak bisa, saya bisa bertanya ke teman terlebih dahulu, kalau sama-sama tidak bisa, kami googling. Kalau sekarang, saya tahu dan sadar bahwa semua temna-teman juga sibuk, jadi saya memaksakan diri saya sendiri untuk belajar/mencari informasi secara mandiri. Tahun ini saya juga belajar cara membagi dan manage waktu dengan lebih baik, ya walaupun rasanya saya belum bisa membagi waktu dengan baik sih. 

Tahun ini, saya sudah terbiasa dengan adanya morning briefing yang dilaksakan setiap jam 7 dan diikuti oleh semua guru dan karyawan. Saya rasa morning briefing ini membantu saya untuk lebih mengenal satu sama lain dan juga mengetahui informasi-informasi yang ada di sekolah. Setiap siang juga diadakan closing briefing. Closing briefing ini juga sangat membantu saya mengupdate tugas-tugas/kegiatan sekolah yang ada. Awalnya, saya tidak begitu suka dengan adanya morning briefing ini, karena setiap pagi rasanya tergesa-gesa harus segera join zoom dan setiap sore seringnya pulangnya tidak on time. Tapi seiring berjalannya waktu dan proses selama 3 bulan ini, rasanya tidak ada masalah dengan adanya morning briefing dan closing briefing karena dua kegiatan tersebut sangat membantu saya untuk update informasi sekolah. 


Senin, 04 Oktober 2021

135 Detik untuk Delia

 

135 Detik Untuk Delia

 

              Delia, gadis cantik dan berprestasi kelas 5 SD Taruna Bakti. Dia mempunyai banyak teman dan prestasi yang cukup membanggakan. Beberapa kali dia mewakili sekolahnya untuk lomba lari, dan hasilnya? Pasti dia mendapat juara pertama.

              Prestasi akademik Delia juga memuaskan. Dia selalu berada di peringkat 10 besar. Teman, keluarga dan guru sangat bangga pada Delia.

              Akhir bulan ini Delia akan mengikuti lomba lari tingkat Provinsi jadi Delia benar-benar harus rajin berlatih. Selain itu Delia juga harus disiplin dalam membagi waktu, waktu untuk belajar, berlatih lari, bermain bersama teman-teman dan waktu bersama keluarga.

              “Delia, nanti sore kamu bisa ikut mengerjakan tugas Matematika?” tanya Tasya sebelum pulang sekolah.

              “Hmm...nanti sore ya?” tanya Delia dengan ragu.

              “Iya, habis itu teman-teman berencana pergi ke kolam renang. Ikut yuk!” kata Tasya lagi. ‘Waah ke kolam renang sama teman-teman? Udah lama banget nih ngga renang bareng teman-teman. Tapi nanti sore ada latihan lari lagi. Ahh tapi latihan lari masih bisa besok lagi kok’ batin Delia dalam hati.

              “Ok, Tasya. Nanti aku ikut mengerjakan tugas dan ke kolam renang ya!” jawab Delia.

Sore itu Delia, Tasya dan teman-temannya mengerjakan tugas Matematika lalu berenang bersama.

              “Kamu akhir bulan ini ada lomba lari ya?” tanya Rara tiba-tiba.

              “Iya ni. Semoga menang lagi!” jawab Delia.

              “Kamu latihan hari apa aja?” tanya Rara lagi.

              “Hmm...sebisaku aja sih, kebetulan Ayah ku sendiri yang menjadi pelatihku, jadi yaa sebisaku. Sebenarnya hari ini latihan, tapi aku bilang ke Ayah kalau kita mau mengerjakan tugas, jadi ngga latihan deh!”jawab Delia.

              “Lhaa..Hari ini seharusnya kamu latihan ya? Kok kamu ngga bilang? Kamu ngga jadi latihan gara-gara aku ajak mengerjakan tugas Matematika ya?” tanya Tasya.

              “Enggak kok. Santai aja.” jawab Delia.

              ***

              “Kok baru pulang?” tanya Ayah Delia.

              “Iya, baru selesai, Yah.” jawab Delia sambil membereskan barang-barangnya.

              “Delia, jangan lupa ya. Akhir bulan kamu ada lomba di Provinsi. Kamu harus berlatih lebih rajin dan giat ya.” kata Ayah Delia mengingatkannya.

              “Iya, Yah. Aku ingat.” jawab Delia sambil lalu. Dalam hati, Delia berjanji bahwa besok dia akan mulai latihan untuk lomba lari.

              Tapi ternyata Delia terlalu asyik bermain dengan teman-temannya. Bermain dengan mereka lebih menyenangkan daripada latihan lari sendirian. Delia selalu menunda untuk mulai latihan lari. Dalam satu bulan dia hanya berlatih 2 kali, itupun hanya sebentar karena dia sudah tidak sabar untuk bermain dengan teman-temannya.
              “Ayah...itu lomba lari 100 meter kan? Ah kecil yah, aku hanya membutuhkan 30 detik untuk berlari sejauh itu.” jawab Delia ketika Ayahnya mengingatkan untuk berlatih.

              “Delia, ini perlombaan lho. Ini bukan lari dengan teman-teman sekolah kamu. Semua peserta lomba adalah pelari lho.” kata Ayah.

              “Iya, Ayah. Besok siang aku akan berlatih!” jawab Delia.

              Dua hari sebelum perlombaan, Delia fokus berlatih. Berlari 100 meter rasanya sangat jauh baginya, bahkan belum ada 100 meter nafasnya sudah terengah-engah.

              “Yaampun, kok capek banget ya yah?”kata Delia sambil melihat stopwatch yang dibawa Ayahnya, “Hah...60 detik??” tanya Delia tidak percaya.
              “Iya! 60 detik.” jawab Ayahnya. Delia mulai panik, kenapa dia jadi lambat dan juga susah mengatur nafas? Selama ini, lari 100 meter adalah hal yang sangat mudah baginya. Sore itu dia berlatih terlalu keras, dan tiba-tiba, “aduhhh….Ayahh! Tolong!” teriak Delia. Ternyata kakinya terkilir. Untuk jalan saja susah, bagaimana dia mau ikut lomba?

              “Udah, ngga usah ikut lomba! Kamu ngga bisa lari dalam keadaan kayak gini!” kata Ayahnya.

              “Ngga! Aku akan tetap ikut lomba, Yah!” jawab Delia sambil meringis kesakitan.

              Hari perlombaan pun tiba. Delia sudah siap, siap untuk segala kemungkinan yang terjadi. Peluit tanda lomba lari sudah dibunyikan. Delia, dengan sekuat tenaga berlari, kakinya masih terkilir, justru lebih parah karena dia paksakan untuk terus berlari. Benar kata Ayahnya, semua peserta lomba ini adalah pelari.

              Delia masih ada di tengah lapangan ketika dia melihat beberapa lawan lomba nya sudah ada di garis finish. “Yang penting sampai garis finish!” kata Delia dalam hati.

              Dengan susah payah, akhirnya Delia sampai ke garis finish dalam waktu 135 detik. Dia sadar, bahwa dia tidak akan memenangkan perlombaan ini.

              “Maaf ya, Ayah.” kata Delia sambil memeluk Ayahnya, tak terasa air mata membasahi wajahnya yang sudah penuh dengan keringat.
              “Ngga apa-apa, Delia. Yang penting kamu sudah berusaha dan kamu mendapatkan pembelajaran dari kejadian ini. Selama ini kamu sudah menjadi yang terbaik diantara teman-teman kamu, tapi kamu tetap harus berlatih secara disiplin dan kamu harus bisa membagi waktu kamu dengan baik.” jawab Ayah.
              “Iya, Ayah!” jawab Delia. Lalu mereka berdua meninggalkan arena lomba lari tersebut.


 



Kamis, 30 September 2021

Indri ingin Menang Sendiri

   Pelajaran pertama hari ini adalah olahraga. Pelajaran yang paling disukai anak-anak karena mereka bisa berlari-lari dan tidak perlu duduk diam di kelas. Anak-anak sudah berbaris rapi di lapangan basket.

“Anak-anak, hari ini kita akan bermain basket!” kata Pak Pur, dan disambut dengan sorak-sorai anak-anak. Mereka sangat suka bermain basket. Lalu Pak Pur membagi anak-anak kelas 6 menjadi 2 tim. Yang sedang tidak bermain, bisa menjadi suporter bagi tim mereka. 

Kapten dari tim pertama adalah Indri dan tim kedua adalah Puji. Indri dan Puji termasuk atlet di sekolah itu. Hampir semua cabang olahraga bisa dikuasai oleh mereka berdua.

Tim pertama dan tim kedua segera pemanasan sebelum melaksanakan pertandingan. Tidak lupa Indri dan Puji juga memberitahu tim mereka trik-trik saat nanti bertanding.

Prittt….prittt….pritt….. “Ayo segera berkumpul dan menempati posisi masing-masing, pertandingan akan segera dimulai.’’ kata Pak Pur. Anak-anak langsung menempati posisi mereka. Para suporter juga langsung menuju sekitar lapangan basket.

Pertandingan antara tim Indri dan tim Puji sangat seru. Skor kedua tim pun saling kejar. Permainan Indri sangat bagus, tapi dia terlalu menguasai bola. Dia jarang mengoper bola basket ke teman-temannya. 

“Indri...Indri siniii…” berkali-kali teriakan itu terdengar di lapangan.

“Indri, oper bola ke temannya.’’ hampir berkali-kali Pak Pur meneriakan hal tersebut ke Indri. Tapi ternyata Indri asyik main sendiri. 

Sasha dan Emily, anggota tim Indri mulai saling pandang. “Kok dia jadi main sendiri sih? Ngga mau oper bola ke kita!” bisik Sasha

“Iya, kenapa sih? Atau karena dia merasa paling bisa main basket diantara kita?” Tanya Emily.

Pertandingan semakin seru dan panas, waktu bermain masih 10 menit, dan skor mereka masing saling kejar. Tapi, ternyata Indri sudah kelelahan karena dari tadi dia tidak mau mengoper bolanya kepada teman-temannya. Skor tim Indri tertinggal jauh dari tim Puji.

Prittt...prittt...prittt…. Tanda permainan sudah selesai. 

"Huhh...gimana sih kalian? Kita kalah kan!” kata Indri kepada teman-temannya.

“Kamu tu yang gimana? Jelas-jelas ini permainan basket, ini permainan tim, kerja sama, kamu ngga bisa main sendiri!” kata Emily

“Kalian lihat kan, dari tadi aku berjuang sendirian, kalian dimana?” tanya Indri dengan nada marah

“Kami dimana? Jelas-jelas dari tadi kami sudah berteriak-teriak supaya kamu mengoper bola kepada kami lho! Kamu aja yang egois, maunya main sendiri!” jawab Sasha.

“Kalian ya …” kata-kata Indri terhenti karena tiba-tiba Pak Pur datang. 

“Indri, dalam bermain basket kamu tidak bisa bermain sendiri, kamu tidak bisa ingin menang sendiri, karena ini permainan yang memerlukan kerja sama. Walaupun kamu bisa bermain basket dengan sangat bagus, kamu bisa berlari dengan kencang, tapi kalau kamu tidak bisa bekerjasama, itu percuma.’’ kata Pak Pur. 

“Iya, Pak Pur. Indri maunya menang sendiri. Pasti karena dia bisa bermain basket, terus jadi ngga nganggap kita. Jadi kita kalah deh. Dia ngga mau kerja sama sih!” tambah Emily lagi. 

Indri hanya terdiam, dia melihat teman-temannya. Lalu dia melihat timnya Puji. Mereka terlihat sangat kompak. Indri lalu menyadari bahwa dia terlalu egois dan dia tidak mau bekerja sama dengan teman-temannya.

“Maaf ya teman-teman, aku tidak bekerjasama dengan kalian, tim kita jadi kalah deh! Jujur, aku memang mau menunjukan kepada semua orang bahwa aku bisa bermain basket dengan sangat bagus dan aku bisa berlari dengan sangat cepat. Maaf ya.’’ kata Indri dengan menyesal

"Sudah-sudah, ini kan sudah berlalu, yang penting besok lagi kita harus bisa bekerjasama jadi kita bisa mendapatkan hasil yang lebih bagus.’’ kata Sasha.



 


Minggu, 26 September 2021

Sajadah Ayah Saka

Hari Jumat ini, Saka dan teman-temannya akan mengerjakan tugas Seni Musik di rumah Saka. Mereka diminta membuat miniatur sebuah panggung pertunjukan musik. Sepulang sekolah, Saka, Andre, Imam dan Arya membeli peralatan yang akan digunakan untuk membuat tugas tersebut. Setelah itu mereka langsung menuju rumah Saka. 

Hidangan makan siang yang lengkap sudah tersedia di meja makan. 

“Wahh, terimakasih sekali tante, tau aja kalau kami sudah lapar’’ kata Andre sambil melihat hidangan lengkap yang ada di meja makan. Saka menaruh peralatan yang akan mereka gunakan untuk membuat miniatur panggung, ganti baju, lalu menuju meja makan. 

“Yuk kita makan dulu, teman-teman!” ajak Saka sambil hendak mengambil piring. 

“Eitts, semuanya harus cuci tangan terlebih dahulu ya, berdoa lalu makan.’’ kata Ibu Saka tiba-tiba. Lalu Saka dan teman-temannya bergantian menuju kamar mandi untuk cuci tangan. Setelah semua cuci tangan, mereka berdoa lalu makan. Walaupun mereka berbeda keyakinan, di sekolah mereka juga selalu makan bersama dan saling mengingatkan untuk selalu berdoa sebelum dan sesudah makan. 

Selesai makan, mereka langsung menaruh piring-piring kotor di tempat cucian piring dan mulai membuat panggung miniatur. Mereka asyik berkreasi membuat miniatur panggung pertunjukan musik. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 5 sore, tugas mereka sudah hampir selesai. 

“Teman-teman, aku pulang dulu ya. Udah mau maghrib.’’ kata Imam sambil merapikan barang-barangnya. Belum selesai Imam merapikan barangnya, hujan turun dengan derasnya, disambut angin dan petir. 

“Eh hujan kayak gini, nanti aja pulangnya. Biar Ibuku ngasih tau kalau kalian masih di sini ya.’’ kata Saka lalu mencari Ibunya. Ibu Saka sudah menghubungi orang tua Andre, Imam dan Arya. Nanti Ayahh Saka akan mengantar mereka bertiga pulang. 

Tepat saat adzan berkumandang, Saka dan teman-temannya menyelesaikan tugas mereka. Hujan masih cukup deras. 

‘’Aku sama Arya mau ke masjid dulu ya. Ini udah ngga deras kok.’’ kata Imam sambil bersiap keluar rumah.
“Eh masih hujan ini, biar diantar Ayah ku aja ya.” kata Saka. Tiba-tiba Ayah Saka keluar dari kamar sambil membawa sebuah benda, ‘’Kalian sholat disini saja. Ini pakai sajadah punya om.’’ kata Ayah Saka. 

“Kok Ayah punya sajadah?” tanya Saka heran. 

“Loh, Om kok punya sajadah? Kan Om beragama Hindu?” tanya Arya bingung.

“Iya, teman-teman Om banyak yang beragama muslim. Dulu waktu belum menikah dan tinggal di kost, teman-teman Om sering main, jadi Om siapkan sajadah, biar mereka bisa berdoa di kostnya Om.” jawab Ayah Saka. 

“Wah, Ayah kamu keren sekali, Sak!” kata Andre. 

“Sekarang Imam dan Arya shalat dulu di kamarnya Saka. Nanti habis itu, Om antar kalian semua pulang ke rumah.’’ kata Ayah Saka. 

“Terimakasih, Om.’’ kata Imam dan Arya hampir bersamaan. 

Imam dan Arya segera mengambil air wudhu di kamar mandi, lalu shalat di kamar Saka. Selesai shalat, Ibu Saka sudah menyiapkan makan malam untuk mereka. Mereka makan bersama, selesai makan, Ayah Saka mengantar Andre, Imam dan Arya pulang. Saka dan teman-temannya senang sekali karena tugas mereka sudah selesai. 





Senin, 13 September 2021

Kertas untuk Kei

Hari ini anak-anak kelas 2 sudah tidak sabar untuk mengikuti pelajaran Art&Craft. Kemarin Pak Ian, guru Art&Craft, sudah mengingatkan bahwa anak-anak harus membawa kertas asturo, spidol dan juga aneka hiasan yang bisa digunakan. 

Pelajaran yang anak-anak tunggu pun tiba juga. Semua sudah mempersiapkan peralatan mereka di atas meja. Beraneka macam warna kertas asturo dan hiasan ada di kelas itu. Ada yang membawa gliters, beraneka macam pita, dan stikers. 

Pak Ian langsung menjelaskan apa yang harus mereka buat dengan kertas asturo, spidol dan hiasan-hiasan tersebut. Semua anak langsung mengerjakan dengan gembira. Ada yang saling melihat pekerjaan teman-teman yang lain. 

"Kei, ayo dikerjakan dulu tugasnya! Peralatanmu mana?" tanya Pak Ian pada Kei. Kei hanya diam saja, melihat Pak Ian dan tidak lama kemudian air mata mengalir dari matanya. ''Lhoh kamu kenapa? Kok malah nangis?'' tanya Pak Ian lagi. 

Melihat Kei yang menangis, teman-teman Kei langsung menghampiri Kei. 

''Mungkin dia tidak membawa kertas, Pak!'' jawab Kleon. 

"Oh iya, Pak. Mungkin dia tidak membawa peralatannya Pak. Kei, ini pakai punyaku aja. Aku bawa 2 kok.'' kata Eva. 

"Oh, kamu tidak membawa peraalatan ya? Kenapa? Kan dari kemarin sudah Pak Ian ingatkan untuk membawa peraalatan.'' tanya Pak Ian. 

Tangis Kei semakin pecah. Kelas menjadi semakin riuh. Semua teman-teman mendatangi Kei. 

''Kei, besok lagi jangan lupa siapkan peralatan yang harus kamu bawa ke sekolah ya. Sekarang kamu bisa pakai kertasnya Eva atau kertasnya Pak Ian ini.'' kata Pak Ian sambil memberikan kertas untuk Kei. 

Tangis Kei tetap pecah, dia tidak mau menerima kertas pemberian teman-temannya dan pemberian Pak Ian. Dia tidak mau melakukan apa-apa, hanya menangis. 

"Mama mana? Aku nunggu Mama. Kenapa Mama ngga bawain kertas untukku?'' tanya Kei sambil menangis. Pak Ian dan teman-teman membujuk Kei supaya mau menggunakan kertas milik teman-teman atau milik Pak Ian, tapi Kei tetap tidak mau dan hanya menangis. 

Tiba-tiba Chloe keluar kelas sambil membawa kertas asturo. ''Mau kemana kamu?" tanya Pak Ian. 

''Mau ke toilet, Pak.'' jawab Chloe. Lalu Chloe keluar kelas. Tidak lama kemudian dia masuk kelas lagi dan mendatangi Kei. 

''Kei, ini kertas asturo kamu, tadi waktu aku ke toilet ketemu sama mama kamu. Mama kamu nitip ini buat kamu. Sepertinya mama kamu tergesa-gesa, jadi langsung pergi.'' kata Chloe sambil menyodorkan kertas asturo berwarna merah muda, warna kesukaan Kei. 

"Benarkah? Tadi mama kesini?'' tanya Kei lagi.

''Iya. Yuk sekarang kita bikin prakarya. Ngga usah nangis lagi.'' kata Chloe. 

Chloe segera duduk di kurisnya dan melanjutkan mengerjakan prakarya. Kelas menjadi kondusif lagi. Teman-teman yang lain juga kembali fokus mengerjakan prakarya mereka masing-masing. Kei, dengan mata yang masih sembab mulai mengerjakan prakaryanya. 

''Thank you, Chloe. You've got such a kind heart!''








Minggu, 15 Agustus 2021

Write Your Paragraph


 Source: Bing English Plus 4 Pupil's Book, page 16


Now, write a paragraph. It can be about your friend, relative or teacher.
(Please write your paragraph in the comment box below.)

Steps:

1. Write a title

2. Write a topic sentence. 

3. Write 3 detail sentences. 

4. Write a final sentence. 


Example:

My favourite teacher is Ms. Diana. 

Ms. Diana teaches Science. Ms. Diana has got short and straight hair. She is very humble and kind. She always explains the materials clearly. I am very happy to have a teacher like Ms. Diana.

One day, I will be a teacher like Ms. Diana.

Jumat, 13 Agustus 2021

Merdeka Mengajar #1


Sebagai seorang guru, kata-kata "merdeka mengajar" masih menjadi tanda tanya besar bagi saya.

 Apakah maksud dari merdeka mengajar? 
 Menurut Theofilus Wage dalam bukunya yang berjudul ''Menjadi Guru Merdeka'', ada beberapa ciri/kriteria guru yang merdeka, yaitu guru bebas dari beberapa hal, yaitu: 
 1. rasa takut 
 2. ingin menjadi seperti 
 3. ketergantungan kepada pihak lain. 

 Dan juga bebas untuk: 
1. mencari kedalaman diri. 
2. mengambil bukan hanya kesimpulan tetapi kedalamandan kearifan. 
3. mengembangkan kedalaman tugasnya. 
4. mengembangkan profesinya. 
5. mengemukakan pendapat dan berorganisasi. 
6. menjaga harga diri 
7. memberdayakan. 

 Tetapi, sekoalah jaman sekarang/orang tua jaman sekarang mungkin berbeda dengan jaman dahulu. Jaman dahulu, rasanya biasa dimarahi oleh guru, mungkin kalau sekarang ada beberapa ortu yang protes atau marah-marah ke guru, terlebih lagi masa pandemi ini. 
Sekolah online, anak-anak di rumah, ortu wfh, jumlah anak zoom banyak, anak ngga memperhatikan, dan masih banyak hal lagi. Lalu ortu protes ke guru. 
Guru pasti ada rasa takut dan sebel juga kan ya. 

Guru juga bebas untuk mengembangkan diri dan mengembangkan profesinya. Tapi dibalik seorang guru, tugas tidak hanya mengajar, tapi ada rapat, ada kegiatan sekolah yang kadang membutuhkan waktu dan tenaga yang luar biasa, koordinasi dengan ortu, ngecek tugas siswa dan tentunya menyiapkan materi. Nah kadang menyiapkan materi justru terakhir karena adanya begitu banyak tugas sekolah yg harus dilaksanakan dan diselesaikan. 

 
Semoga saya bisa menemukan makna merdeka mengajar!