SeLamat datangg...
welcome...Sugeng rawuh...verwelkomen..benvenuto...gratus...willkommen...hougei...bem-vindo...
Senin, 18 Oktober 2021
Refleksi PD 2
Senin, 04 Oktober 2021
135 Detik untuk Delia
135 Detik Untuk Delia
Delia, gadis cantik
dan berprestasi kelas 5 SD Taruna Bakti. Dia mempunyai banyak teman dan
prestasi yang cukup membanggakan. Beberapa kali dia mewakili sekolahnya untuk
lomba lari, dan hasilnya? Pasti dia mendapat juara pertama.
Prestasi akademik
Delia juga memuaskan. Dia selalu berada di peringkat 10 besar. Teman, keluarga
dan guru sangat bangga pada Delia.
Akhir bulan ini
Delia akan mengikuti lomba lari tingkat Provinsi jadi Delia benar-benar harus
rajin berlatih. Selain itu Delia juga harus disiplin dalam membagi waktu, waktu
untuk belajar, berlatih lari, bermain bersama teman-teman dan waktu bersama
keluarga.
“Delia, nanti sore
kamu bisa ikut mengerjakan tugas Matematika?” tanya Tasya sebelum pulang
sekolah.
“Hmm...nanti sore
ya?” tanya Delia dengan ragu.
“Iya, habis itu
teman-teman berencana pergi ke kolam renang. Ikut yuk!” kata Tasya lagi. ‘Waah
ke kolam renang sama teman-teman? Udah lama banget nih ngga renang bareng
teman-teman. Tapi nanti sore ada latihan lari lagi. Ahh tapi latihan lari masih
bisa besok lagi kok’ batin Delia dalam hati.
“Ok, Tasya. Nanti
aku ikut mengerjakan tugas dan ke kolam renang ya!” jawab Delia.
Sore itu Delia, Tasya dan teman-temannya mengerjakan tugas Matematika
lalu berenang bersama.
“Kamu akhir bulan
ini ada lomba lari ya?” tanya Rara tiba-tiba.
“Iya ni. Semoga
menang lagi!” jawab Delia.
“Kamu latihan hari
apa aja?” tanya Rara lagi.
“Hmm...sebisaku aja
sih, kebetulan Ayah ku sendiri yang menjadi pelatihku, jadi yaa sebisaku.
Sebenarnya hari ini latihan, tapi aku bilang ke Ayah kalau kita mau mengerjakan
tugas, jadi ngga latihan deh!”jawab Delia.
“Lhaa..Hari ini
seharusnya kamu latihan ya? Kok kamu ngga bilang? Kamu ngga jadi latihan
gara-gara aku ajak mengerjakan tugas Matematika ya?” tanya Tasya.
“Enggak kok. Santai
aja.” jawab Delia.
***
“Kok baru pulang?”
tanya Ayah Delia.
“Iya, baru selesai,
Yah.” jawab Delia sambil membereskan barang-barangnya.
“Delia, jangan lupa
ya. Akhir bulan kamu ada lomba di Provinsi. Kamu harus berlatih lebih rajin dan
giat ya.” kata Ayah Delia mengingatkannya.
“Iya, Yah. Aku
ingat.” jawab Delia sambil lalu. Dalam hati, Delia berjanji bahwa besok dia
akan mulai latihan untuk lomba lari.
Tapi ternyata Delia
terlalu asyik bermain dengan teman-temannya. Bermain dengan mereka lebih
menyenangkan daripada latihan lari sendirian. Delia selalu menunda untuk mulai
latihan lari. Dalam satu bulan dia hanya berlatih 2 kali, itupun hanya sebentar
karena dia sudah tidak sabar untuk bermain dengan teman-temannya.
“Ayah...itu lomba lari 100
meter kan? Ah kecil yah, aku hanya membutuhkan 30 detik untuk berlari sejauh
itu.” jawab Delia ketika Ayahnya mengingatkan untuk berlatih.
“Delia, ini
perlombaan lho. Ini bukan lari dengan teman-teman sekolah kamu. Semua peserta
lomba adalah pelari lho.” kata Ayah.
“Iya, Ayah. Besok
siang aku akan berlatih!” jawab Delia.
Dua hari sebelum
perlombaan, Delia fokus berlatih. Berlari 100 meter rasanya sangat jauh
baginya, bahkan belum ada 100 meter nafasnya sudah terengah-engah.
“Yaampun, kok capek
banget ya yah?”kata Delia sambil melihat stopwatch yang dibawa Ayahnya,
“Hah...60 detik??” tanya Delia tidak percaya.
“Iya! 60 detik.” jawab
Ayahnya. Delia mulai panik, kenapa dia jadi lambat dan juga susah mengatur
nafas? Selama ini, lari 100 meter adalah hal yang sangat mudah baginya. Sore
itu dia berlatih terlalu keras, dan tiba-tiba, “aduhhh….Ayahh! Tolong!” teriak
Delia. Ternyata kakinya terkilir. Untuk jalan saja susah, bagaimana dia mau
ikut lomba?
“Udah, ngga usah
ikut lomba! Kamu ngga bisa lari dalam keadaan kayak gini!” kata Ayahnya.
“Ngga! Aku akan
tetap ikut lomba, Yah!” jawab Delia sambil meringis kesakitan.
Hari perlombaan pun
tiba. Delia sudah siap, siap untuk segala kemungkinan yang terjadi. Peluit
tanda lomba lari sudah dibunyikan. Delia, dengan sekuat tenaga berlari, kakinya
masih terkilir, justru lebih parah karena dia paksakan untuk terus berlari. Benar
kata Ayahnya, semua peserta lomba ini adalah pelari.
Delia masih ada di
tengah lapangan ketika dia melihat beberapa lawan lomba nya sudah ada di garis
finish. “Yang penting sampai garis finish!” kata Delia dalam hati.
Dengan susah payah,
akhirnya Delia sampai ke garis finish dalam waktu 135 detik. Dia sadar, bahwa
dia tidak akan memenangkan perlombaan ini.
“Maaf ya, Ayah.”
kata Delia sambil memeluk Ayahnya, tak terasa air mata membasahi wajahnya yang
sudah penuh dengan keringat.
“Ngga apa-apa, Delia. Yang
penting kamu sudah berusaha dan kamu mendapatkan pembelajaran dari kejadian
ini. Selama ini kamu sudah menjadi yang terbaik diantara teman-teman kamu, tapi
kamu tetap harus berlatih secara disiplin dan kamu harus bisa membagi waktu
kamu dengan baik.” jawab Ayah.
“Iya, Ayah!” jawab Delia.
Lalu mereka berdua meninggalkan arena lomba lari tersebut.
Kamis, 30 September 2021
Indri ingin Menang Sendiri
Pelajaran pertama hari ini adalah olahraga. Pelajaran yang paling disukai anak-anak karena mereka bisa berlari-lari dan tidak perlu duduk diam di kelas. Anak-anak sudah berbaris rapi di lapangan basket.
“Anak-anak, hari ini kita akan bermain basket!” kata Pak
Pur, dan disambut dengan sorak-sorai anak-anak. Mereka sangat suka bermain
basket. Lalu Pak Pur membagi anak-anak kelas 6 menjadi 2 tim. Yang sedang tidak
bermain, bisa menjadi suporter bagi tim mereka.
Kapten dari tim pertama adalah Indri dan tim kedua adalah Puji. Indri dan Puji termasuk atlet di sekolah itu. Hampir semua cabang olahraga bisa dikuasai oleh mereka berdua.
Tim pertama dan tim kedua segera pemanasan sebelum melaksanakan pertandingan. Tidak lupa Indri dan Puji juga memberitahu tim mereka trik-trik saat nanti bertanding.
Prittt….prittt….pritt….. “Ayo segera berkumpul dan menempati posisi masing-masing, pertandingan akan segera dimulai.’’ kata Pak Pur. Anak-anak langsung menempati posisi mereka. Para suporter juga langsung menuju sekitar lapangan basket.
Pertandingan antara tim Indri dan tim Puji sangat seru. Skor kedua tim pun saling kejar. Permainan Indri sangat bagus, tapi dia terlalu menguasai bola. Dia jarang mengoper bola basket ke teman-temannya.
“Indri...Indri siniii…” berkali-kali teriakan itu terdengar di lapangan.
“Indri, oper bola ke temannya.’’ hampir berkali-kali Pak Pur meneriakan hal tersebut ke Indri. Tapi ternyata Indri asyik main sendiri.
Sasha dan Emily, anggota tim Indri mulai saling pandang. “Kok dia jadi main sendiri sih? Ngga mau oper bola ke kita!” bisik Sasha
“Iya, kenapa sih? Atau karena dia merasa paling bisa main basket diantara kita?” Tanya Emily.
Pertandingan semakin seru dan panas, waktu bermain masih 10 menit, dan skor mereka masing saling kejar. Tapi, ternyata Indri sudah kelelahan karena dari tadi dia tidak mau mengoper bolanya kepada teman-temannya. Skor tim Indri tertinggal jauh dari tim Puji.
Prittt...prittt...prittt…. Tanda permainan sudah selesai.
"Huhh...gimana sih kalian? Kita kalah kan!” kata Indri kepada teman-temannya.
“Kamu tu yang gimana? Jelas-jelas ini permainan basket, ini permainan tim, kerja sama, kamu ngga bisa main sendiri!” kata Emily
“Kalian lihat kan, dari tadi aku berjuang sendirian, kalian dimana?” tanya Indri dengan nada marah
“Kami dimana? Jelas-jelas dari tadi kami sudah berteriak-teriak supaya kamu mengoper bola kepada kami lho! Kamu aja yang egois, maunya main sendiri!” jawab Sasha.
“Kalian ya …” kata-kata Indri terhenti karena tiba-tiba Pak Pur datang.
“Indri, dalam bermain basket kamu tidak bisa bermain sendiri, kamu tidak bisa ingin menang sendiri, karena ini permainan yang memerlukan kerja sama. Walaupun kamu bisa bermain basket dengan sangat bagus, kamu bisa berlari dengan kencang, tapi kalau kamu tidak bisa bekerjasama, itu percuma.’’ kata Pak Pur.
“Iya, Pak Pur. Indri maunya menang sendiri. Pasti karena dia bisa bermain basket, terus jadi ngga nganggap kita. Jadi kita kalah deh. Dia ngga mau kerja sama sih!” tambah Emily lagi.
Indri hanya terdiam, dia melihat teman-temannya. Lalu dia melihat timnya Puji. Mereka terlihat sangat kompak. Indri lalu menyadari bahwa dia terlalu egois dan dia tidak mau bekerja sama dengan teman-temannya.
“Maaf ya teman-teman, aku tidak bekerjasama dengan kalian, tim kita jadi kalah deh! Jujur, aku memang mau menunjukan kepada semua orang bahwa aku bisa bermain basket dengan sangat bagus dan aku bisa berlari dengan sangat cepat. Maaf ya.’’ kata Indri dengan menyesal
"Sudah-sudah, ini kan sudah berlalu, yang penting besok lagi kita harus bisa bekerjasama jadi kita bisa mendapatkan hasil yang lebih bagus.’’ kata Sasha.
Minggu, 26 September 2021
Sajadah Ayah Saka
Hari Jumat ini, Saka dan teman-temannya akan mengerjakan tugas Seni Musik di rumah Saka. Mereka diminta membuat miniatur sebuah panggung pertunjukan musik. Sepulang sekolah, Saka, Andre, Imam dan Arya membeli peralatan yang akan digunakan untuk membuat tugas tersebut. Setelah itu mereka langsung menuju rumah Saka.
Hidangan makan siang yang lengkap sudah tersedia di meja makan.
“Wahh, terimakasih sekali tante, tau aja kalau kami sudah lapar’’ kata Andre sambil melihat hidangan lengkap yang ada di meja makan. Saka menaruh peralatan yang akan mereka gunakan untuk membuat miniatur panggung, ganti baju, lalu menuju meja makan.
“Yuk kita makan dulu, teman-teman!” ajak Saka sambil hendak mengambil piring.
“Eitts, semuanya harus cuci tangan terlebih dahulu ya, berdoa lalu makan.’’ kata Ibu Saka tiba-tiba. Lalu Saka dan teman-temannya bergantian menuju kamar mandi untuk cuci tangan. Setelah semua cuci tangan, mereka berdoa lalu makan. Walaupun mereka berbeda keyakinan, di sekolah mereka juga selalu makan bersama dan saling mengingatkan untuk selalu berdoa sebelum dan sesudah makan.
Selesai makan, mereka langsung menaruh piring-piring kotor di tempat cucian piring dan mulai membuat panggung miniatur. Mereka asyik berkreasi membuat miniatur panggung pertunjukan musik. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 5 sore, tugas mereka sudah hampir selesai.
“Teman-teman, aku pulang dulu ya. Udah mau maghrib.’’ kata Imam sambil merapikan barang-barangnya. Belum selesai Imam merapikan barangnya, hujan turun dengan derasnya, disambut angin dan petir.
“Eh hujan kayak gini, nanti aja pulangnya. Biar Ibuku ngasih tau kalau kalian masih di sini ya.’’ kata Saka lalu mencari Ibunya. Ibu Saka sudah menghubungi orang tua Andre, Imam dan Arya. Nanti Ayahh Saka akan mengantar mereka bertiga pulang.
Tepat saat adzan berkumandang, Saka dan teman-temannya menyelesaikan tugas mereka. Hujan masih cukup deras.
‘’Aku sama Arya mau ke masjid dulu ya. Ini udah ngga deras kok.’’ kata Imam sambil bersiap keluar rumah.
“Eh masih hujan ini, biar diantar Ayah ku aja ya.” kata Saka. Tiba-tiba Ayah Saka keluar dari kamar sambil membawa sebuah benda, ‘’Kalian sholat disini saja. Ini pakai sajadah punya om.’’ kata Ayah Saka.
“Kok Ayah punya sajadah?” tanya Saka heran.
“Loh, Om kok punya sajadah? Kan Om beragama Hindu?” tanya Arya bingung.
“Iya, teman-teman Om banyak yang beragama muslim. Dulu waktu belum menikah dan tinggal di kost, teman-teman Om sering main, jadi Om siapkan sajadah, biar mereka bisa berdoa di kostnya Om.” jawab Ayah Saka.
“Wah, Ayah kamu keren sekali, Sak!” kata Andre.
“Sekarang Imam dan Arya shalat dulu di kamarnya Saka. Nanti habis itu, Om antar kalian semua pulang ke rumah.’’ kata Ayah Saka.
“Terimakasih, Om.’’ kata Imam dan Arya hampir bersamaan.
Imam dan Arya segera mengambil air wudhu di kamar mandi, lalu shalat di kamar Saka. Selesai shalat, Ibu Saka sudah menyiapkan makan malam untuk mereka. Mereka makan bersama, selesai makan, Ayah Saka mengantar Andre, Imam dan Arya pulang. Saka dan teman-temannya senang sekali karena tugas mereka sudah selesai.
Senin, 13 September 2021
Kertas untuk Kei
Hari ini anak-anak kelas 2 sudah tidak sabar untuk mengikuti pelajaran Art&Craft. Kemarin Pak Ian, guru Art&Craft, sudah mengingatkan bahwa anak-anak harus membawa kertas asturo, spidol dan juga aneka hiasan yang bisa digunakan.
Pelajaran yang anak-anak tunggu pun tiba juga. Semua sudah mempersiapkan peralatan mereka di atas meja. Beraneka macam warna kertas asturo dan hiasan ada di kelas itu. Ada yang membawa gliters, beraneka macam pita, dan stikers.
Pak Ian langsung menjelaskan apa yang harus mereka buat dengan kertas asturo, spidol dan hiasan-hiasan tersebut. Semua anak langsung mengerjakan dengan gembira. Ada yang saling melihat pekerjaan teman-teman yang lain.
"Kei, ayo dikerjakan dulu tugasnya! Peralatanmu mana?" tanya Pak Ian pada Kei. Kei hanya diam saja, melihat Pak Ian dan tidak lama kemudian air mata mengalir dari matanya. ''Lhoh kamu kenapa? Kok malah nangis?'' tanya Pak Ian lagi.
Melihat Kei yang menangis, teman-teman Kei langsung menghampiri Kei.
''Mungkin dia tidak membawa kertas, Pak!'' jawab Kleon.
"Oh iya, Pak. Mungkin dia tidak membawa peralatannya Pak. Kei, ini pakai punyaku aja. Aku bawa 2 kok.'' kata Eva.
"Oh, kamu tidak membawa peraalatan ya? Kenapa? Kan dari kemarin sudah Pak Ian ingatkan untuk membawa peraalatan.'' tanya Pak Ian.
Tangis Kei semakin pecah. Kelas menjadi semakin riuh. Semua teman-teman mendatangi Kei.
''Kei, besok lagi jangan lupa siapkan peralatan yang harus kamu bawa ke sekolah ya. Sekarang kamu bisa pakai kertasnya Eva atau kertasnya Pak Ian ini.'' kata Pak Ian sambil memberikan kertas untuk Kei.
Tangis Kei tetap pecah, dia tidak mau menerima kertas pemberian teman-temannya dan pemberian Pak Ian. Dia tidak mau melakukan apa-apa, hanya menangis.
"Mama mana? Aku nunggu Mama. Kenapa Mama ngga bawain kertas untukku?'' tanya Kei sambil menangis. Pak Ian dan teman-teman membujuk Kei supaya mau menggunakan kertas milik teman-teman atau milik Pak Ian, tapi Kei tetap tidak mau dan hanya menangis.
Tiba-tiba Chloe keluar kelas sambil membawa kertas asturo. ''Mau kemana kamu?" tanya Pak Ian.
''Mau ke toilet, Pak.'' jawab Chloe. Lalu Chloe keluar kelas. Tidak lama kemudian dia masuk kelas lagi dan mendatangi Kei.
''Kei, ini kertas asturo kamu, tadi waktu aku ke toilet ketemu sama mama kamu. Mama kamu nitip ini buat kamu. Sepertinya mama kamu tergesa-gesa, jadi langsung pergi.'' kata Chloe sambil menyodorkan kertas asturo berwarna merah muda, warna kesukaan Kei.
"Benarkah? Tadi mama kesini?'' tanya Kei lagi.
''Iya. Yuk sekarang kita bikin prakarya. Ngga usah nangis lagi.'' kata Chloe.
Chloe segera duduk di kurisnya dan melanjutkan mengerjakan prakarya. Kelas menjadi kondusif lagi. Teman-teman yang lain juga kembali fokus mengerjakan prakarya mereka masing-masing. Kei, dengan mata yang masih sembab mulai mengerjakan prakaryanya.
''Thank you, Chloe. You've got such a kind heart!''
Minggu, 15 Agustus 2021
Write Your Paragraph
Source: Bing English Plus 4 Pupil's Book, page 16
Now, write a paragraph. It can be about your friend, relative or teacher.
(Please write your paragraph in the comment box below.)
Steps:
1. Write a title
2. Write a topic sentence.
3. Write 3 detail sentences.
4. Write a final sentence.
Example:
My favourite teacher is Ms. Diana.
Ms. Diana teaches Science. Ms. Diana has got short and straight hair. She is very humble and kind. She always explains the materials clearly. I am very happy to have a teacher like Ms. Diana.
One day, I will be a teacher like Ms. Diana.




