Autobiografi
Namaku
Lucia Astri Noviyanti. Aku lahir pada tanggal 26 November 1990. Masa sekolah
dan kuliah kuselesaikan di Yogyakarta. Aku terlahir dari keluarga sederhana;
Bapak seorang guru di sebuah SMP di sekitar pegunungan Menoreh dan Ibu seorang
guru SD di dekat Kali Progo. Aku dan kedua kakakku tidak bersekolah dimana Ibu
dan Bapak bekerja, “supaya mandiri” begitu kata mereka.
Aku
menghabiskan masa SMA di SMA N 1 Godean. SMA yang lumayan jauh dari rumah. Perjalanan
ke sekolah aku tempuh dengan sepeda lalu naik bus. Aku sangat jarang minta
diantar jemput oleh Bapak Ibu, karena mereka juga sibuk bekerja.
Setelah
tamat SMA, aku melanjutkan Pendidikan di Universitas Sanata Dharma. Aku
mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Jurusan yang sama dengan kedua
kakakku. Kakak pertama angkatan 2005, kakak kedua angkatan 2007 dan aku
angkatan 2008. Kadang kami bisa bertemu saat di kampus. Ada banyak keuntungan kuliah
di jurusan yang sama dengan kedua kakakku. Aku tidak perlu membeli kamus dan
buku-buku kuliah. Terkadang sudah ada jawaban di buku-buku kakakku. Hal
tersebut membuatku berada di zona yang sangat nyaman tapi tanpa kusadari hal
tersebut justru merugikanku. Aku tidak pernah mencoba atau belajar dengan
maksimal, aku selalu mengandalkan buku-buku milik kakakku. Dan aku juga terlalu
santai saat kuliah. Hal tersebut membuat nilai-nilaiku sama sekali tidak
memuaskan.
Sekarang
aku sadar, seharusnya dulu aku tidak terlalu terlena dengan keberadaan kedua
kakakku yang berada di jurusan yang sama denganku, seharusnya aku segera
meninggalkan zona nyamanku. Seharusnya aku bisa memaksimalkan potensi yang ada
pada diriku. Zona nyaman memang benar-benar sangat nyaman tetapi zona nyaman
bisa menjadi boomerang bagi kita sendiri.
Di pertengahan
tahun 2012, saat beberapa temanku sudah menyelesaikan kuliah dan beberapa sudah
bekerja, aku masih saja santai dengan skripsiku. Bahkan dipertengahan tahun
itu, aku sedang sangat bersemangat untuk mengikuti kegiatan gereja. Selama
kurang lebih 2 minggu, aku dan teman-teman dari Yogyakarta dan Semarang mengikuti
Indonesian Youth Day. Kegiatan yang pertama kali dilaksanan di tahun 2012
tersebut diikuti oleh perwakilan orang muda Katolik dari seluruh Indonesia.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di Sintang dan Sanggau, Kalimantan Barat. Kami
belajar banyak hal dan kami juga belajar dari banyak orang. Kami menyadari
bahwa Indonesia sangat luas dan sangat kaya dengan berbagai macam adat-istiadat
yang sangat menarik dan juga unik. Berproses bersama teman-teman dari Yogyakarta
dan Semarang untuk sampai pada acara tersebut dan juga berproses bersama teman-teman
dari seluruh Indonesia adalah pengalaman yang tidak akan terlupakan.
Mungkin mitos
bahwa, “kalau pernah minum air dari sungai Kapuas, maka kamu akan kembali lagi
kesana (Kalimantan)” adalah benar adanya. Aku kembali lagi ke Sanggau pada
bulan Juli 2013, satu bulan setelah dinyatakan lulus ujian pendadaran. Kali ini
bukan untuk kegitan gereja, tetapi untuk bekerja. Ya! Mulai bulan Juli 2013,
aku bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di SMP Yos Sudarso Parindu, Bodok,
Sanggau, Kalimantan Barat.
Awalnya Bapak
Ibuku tidak mengijinkanku, terutama Ibuku. Masih kuingat, sore itu saat hujan
deras dan setelah melalui pembicaraan yang panjang bahwa aku sudah diterima
bekerja di Sanggau, akhirnya Ibuku mengatakan, “yang penting hati-hati” kata
Ibuku hampir menangis. Bapak dengan bijaksana bilang, “kalau kamu sudah mantap,
ya monggo. Asalkan hati-hati dan bertanggung jawab dengan keputusanmu”. Bapak
tidak pernah melarangku melakukan apapun, asalkan aku bertanggung jawab dengan
pilihanku.
Kembali ke
Sanggau, seperti kembali ke rumah walaupun sebelumnya aku hanya disana selama
kurang lebih 2 minggu. Aku mempunyai saudara yang tinggal di Pahauman, tapi itu
sangat jauh sekali dari Sanggau dan kalau mau kesana harus ditempuh dengan
jalan yang luar biasa jeleknya. Di Sanggau, aku tinggal di rumah salah satu
guru di SMP Yos Sudarso, Ibu Thres namanya. Beliau sangat baik, benar-benar
seperti Ibu bagiku. Beliau mempunyai kos-kosan untuk anak-anak SMP Yos Sudarso.
Dengan tinggal disitu, membuatku cukup cepat beradaptasi dengan lingkungan yang
benar-benar baru bagiku.
Tinggal di
tempat yang benar-benar jauh dari rumah, jauh dari keluarga dan akses
transportasi yang terbatas membuatku lebih bisa mensyukuri hidup ini. Pernah
sekali waktu aku masih di bus menuju Sanggau, waktu itu sudah hampir jam 12
malam dan tiba-tiba bus yang aku tumpangi ternyata tidak jadi sampai Sanggau
dan beberapa dari kami diturunkan di tengah jalan dengan pemandangan kanan kiri
adalah pohon sawit. Pernah juga, malam-malam jatuh dari motor saat melewati
jalan yang luar biasa jeleknya, puji Tuhan tidak ada truk pembawa sawit di
belakangku dan saat itu juga ada warga sekitar yang langsung menolongku. Aku
sangat bersyukur bahwa aku berada di antara orang-orang asing yang begitu baik padaku.
Dan aku yakin bahwa semua itu tidak terlepas dari kedua orang tua ku yang
selalu ramah dan welcome kepada setiap orang yang datang ke rumah. Kenyataan
bahwa aku selalu diterima oleh mereka, aku bisa bertahan hidup dan aku
dikelilingi orang-orang baik adalah anugrah yang luar biasa. Mungkin kata Paulo
Coelho tentang hukum keramahtamahan adalah benar adanya.
Satu tahun
disana menyadarkanku bahwa kita tidak perlu kawatir berada ditempat yang baru
selama kita bertindak sopan dan kita masih punya mulut untuk bertanya dan
berbicara.
Tahun 2014
aku meninggalkan SMP Yos Sudarso dan Sanggau. Aku Kembali ke Yogyakarta dan aku
berusaha mencari pekerjaan di Yogyakarta. Hampir 6 bulan aku belum mendapatkan
pekerjaan dan memang benar bahwa “bekerja itu lelah tetapi mencari pekerjaan
itu lebih melelahkan”.
Tahun 2015
aku mencoba hal baru di bidang perhotelan. Ya, aku pindah ke Jakarta dan aku
bekerja sebagai HR Admin di Corporate Hotel Santika. Aku harus kembali beradaptasi
dengan segala sesuatu yang baru lagi. Kata orang, Jakarta itu keras! Benar
sekali. Di Jakarta aku tidak hanya belajar tentang hal baru tentang perhotelan,
tapi aku juga belajar bahwa harus bisa membagi waktu dengan baik, bisa lebih
tegas terhadap diri sendiri dan orang lain, lebih mandiri, lebih mau belajar
hal baru dan lebih menghargai waktu.
Di Jakarta
aku juga semakin menyadari bahwa ada banyak orang baik di sekitarku, tapi aku tetap
harus berhati-hati. Aku pernah kehilangan uang dan laptop kantor dan justru aku
sendiri yang dituduh menggunakan uang dan mengambil laptop tersebut. Setelah diusut
selama beberapa minggu, setelah hampir selalu pulang malam karena introgasi
yang sangat melelahkan dan penuh air mata, akhirnya pencurinya tertangkap.
Pencurinya adalah Pak Satpam yang amat sangat ramah sekali. Aku dan teman-teman
sama sekali tidak menyangka. Hal ini mengingatkanku bahwa kita memang
benar-benar tidak bisa judge a book by its cover.
Tahun 2017
aku pindah ke Purwokerto, dan kembali pada passion ku. Aku kembali
mengajar di SD 3 Bahasa Putera Harapan, salah satu SD yang terkenal di Purwokerto.
Aku harus beradaptasi lagi dengan lingkungan yang baru, orang-orang yang baru
dan pekerjaan yang baru.
Dan sekarang,
dengan adanya pandemi, aku dan semua orang harus beradaptasi lagi. Beradaptasi
dengan cara hidup dan juga dengan pekerjaan.
Hidup memang
benar-benar tentang sebuah perjalanan, pilihan dan adaptasi.
Dengan
beradaptasi kita bisa tetap hidup.
Saat masih
hidup kita bisa membuat pilihan yang juga harus bisa kita pertanggungjawabkan.
Kita juga
bisa membuat pilihan untuk tetap di zona nyaman atau keluar dari zona nyaman.
Saat masih
hidup kita bisa melakukan perjalanan yang membuat kita lebih mensyukuri hidup
ini, dan menyadarkan kita bahwa dunia itu sangat indah dan luas.