SeLamat datangg...


welcome...Sugeng rawuh...verwelkomen..benvenuto...gratus...willkommen...hougei...bem-vindo...

Senin, 13 Oktober 2014

Membuat passpor? hayukk....



Jadi ceritanya aku udah punya passport. Hehee…dan ternyata membuat passpor itu gampang banget kok, kayak membuat KTP. Kemarin sebelum membuat passport, aku udah searching-searching tentang membuat passport, well, it helps me so much! J Ada juga kok pembuatan passport secara online, kita tinggal buka link, klik-klik trs tinggal datang ke bandara, tapi kita harus upload berkas-berkas kita.  Kalo dari info yang aku dapatkan, aku harus bolak-balik ke kantor imigrasi 3 kali, dan biayanya adalah Rp 255.000,00. How about now? Check this out! 

Karna aku tinggalnya di Jogja, jadi aku membuat passport di Jogja aja yaitu di kantor Imigrasi, di Jalan Solo, letaknya depan SPBU Bandara Adi Sucipto atau sebelah barat Bandara. Nah setelah sampai disana, nanti ditanya2 sama mas-mas penjaga di depan pintu. Setelah itu diberi nomer antrian dan disuruh ngambil map kuning di sebelah kiri pintu masuk. 

Setelah mengambil map, langsung kita isi aja data-data diri kita. Oh iya, supaya cepet, kita persiapkan syarat-syarat yang harus kita bawa, yaitu
1.    Fotocopy KTP dan KTP asli
2.    Fotocopy KK dan KK asli
3.    Fotocopy ijazah/akta kelahiran/surat baptis dan yang asli (pilih salah satu)
Ingat ya, kita harus bawa yang asli juga. Sebenernya syarat-syarat diatas udah cukup kok, tapi kalau kita mau go aboard dalam rangka student exchange atau tugas dari kampus gitu, kita juga perlu surat rekomendasi dari kampus beserta fotocopyannnya.
Nah, kalau yang mau cari passport anak dibawh 17 tahun, syarat-syaratnya sama kayak yang di atas itu, tapi ditambahi dengan
1.    Fotocopy KTP kedua orang tua dan KTP asli
2.    Surat pernyataan dari orang tua.
Ribet? Nggak kok, yakin deh!
Setelah kita isi data-data yang ada di map kuning tersebut, kita tinggal tunggu no antrian kita dipanggil di loket 1. Kalau loket 2 dan 3 itu untuk yang udah daftar online.

Kemarin aku sampai di Kantor Imigrasi sekitar pukul 08.30 WIB dan aku udah dapat antrian no 67. Jadi kalau mau cepet, sebaiknya datang pagi-pagi, sekitar pukul 08.00 WIB. Sambil nunggu no antrian, aku ngobrol-ngobrol sama mbak cantik. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, ternyata dia anak UGM Keperawatan. Namanya Shintia. Rumahnya deket Gereja Ganjuran. Dan dia juga pertama kali ini membuat passport. Dia dapat antrian no 66. Dia mau ke Thailand dalam rangka semacam pertukaran pelajar. Ihh waww banget ya? Waaa…Lalu kami saling tanya apa beda passport 24 halaman dan 48 halaman, berapa harganya, dsb.

Setelah kami searching-searching ternyata passport 24 halaman itu berlaku selama 3 tahun. Biasanya digunakan oleh orang-orang yang mau naik haji, sebagai TKI, atau ada tugas khusus. Harganya pun lebih murah, sekitar 200an ribu.
Sedangkan passport 48 halaman itu untuk umum. Masa berlaku selama 5 tahun. Harganya lebih mahal, yaitu sekitar 255ribu. Oke, fix, berarti kami nyari yang 48 halaman. Nah karena nomer antrian kami masih lama, akhirnya dek Shintia ke kampus dulu. Kami saling bertukar nomer HP, dengan tujuan kalau udah sampai nomer antrian 60 aku bisa SMS ke dia.

Sejenak aku nunggu sebentar, melihat kanan-kiri, dan….aku melihat sosok mbak Endang! Jadi dulu kami ketemu karena sering berkelana di kapel kampus *berkelana?* Mbak Endang itu dari BK 2006. Dia kemarin sama anaknya yang no 3. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, ternyata mbak Endang juga baru aja resign, yaitu Juni tahun ini *ahh, out of the context!* Ternyata yang membuat passport adalah anak mbak Endang. Anaknya itu mau ikut festival tari di Hongkong. Anaknya baru kelas 3 SD, di SD Kanisius Condong Catur *cah cilik ik wes tekan hongkong, aku? =.= *

Setelah nunggu agak lama, akhirnya tibalah giliranku. Itu termasuk cepet dink karena ada beberapa nomer antrian yang dipanggil tetapi orangnya nggak ada. Dan pas aku tanya di dalam, kalau nomernya tadi kelewatan gimana? “Wah, ya nanti kami panggil lagi mbak. Kalau semuanya udah habis” Nah, jadi kalau ngantri, mending nggak usah ditinggal pergi-pergi ya.

Aku masuk ke ruangan dan ke loket 1. Sama mbaknya ditanya, mau ke mana, alamat, pekerjaan, dsb. Setelah di cek semuanya lalu langsung disuruh foto. Fotonya nggak jauh kok, cuma di deket mbaknya udah ada petugas khusus yang memfoto.

Pas foto gak boleh pake kacamata. Ternyata petugas yang memfoto itu adalah Pak Matheo, dia adalah suaminya temenku yaitu Ivon. Setelah selesai foto, ditanya-tanya lagi, disuruh ngecek nama, alamat, dan tempat/tanggal lahir. Terus dikasih slip. Slip itu digunakan untuk membayar ke bank BNI. Dan ternyata sekarang mbayarnya adalah Rp 355.000,00. Itu berarti naik Rp 100.000,00 huhuhuu….. Passport kita akan jadi 3 hari setelah kita bayar ke BNI.

Setelalah selesai, aku dan dek Shinta menuju Bank BNI UGM yang letaknya disebelah selatan Radio Swaragama. Karena sebelum berangkat tadi aku udah ngambil uang duluan, jadi aku langsung bayar. Sedangkan dek Shinta ngambil uang di ATM dulu. Bayarnya jadi Rp 360.000,00 karena Rp 5.000,00 digunakan untuk administrasi. Tidak berapa lama, muncullah dek Shintia. Lalu dia segera membayar, setelah selesai membayar, kami masih ngobrol ngalor ngidul. Lalu kami berpisah. Wah, dapat teman setengah hari juga deh J

Tiga hari berikutnya, aku mengambil passport di kantor Imigrasi. Proses ngambilnya cepet kok. Setelah mendapatkan passport, kita disuruh untuk mengecek nama, alamat, foto, dan tempat/tanggal lahir kita. Setelah bener semua, kita disuruh tanda tangan dan disuruh memfotocopy passport kita @2 lembar. Disana juga ada tempat foto copy kok, yaitu di sebelah bawah, deket parkiran. Foto copynya bayar Rp 1.000,00. Setelah difotocopy, satu diberikan di kantor Imigrasi satunya kita bawa. Setelah itu…..jreng..jreng..selesailah acara pembuatan passport. Gampang dan cepet kan? J

Jadi kalau kita akumulasi biaya pembuatan passport adalah:
1
Biaya pembuatan passport
Rp 355.000,00
2
Administrasi Bank
Rp      5.000,00
3
Parkir 2@1000
Rp      2.000,00
4
Foto copy passport
Rp      1.000,00

Total
Rp  363.000,00


Selasa, 02 September 2014

Racetho!



           Malam itu aku bertemu dengan temanku. Sudah cukup lama sepertinya kami tidak bertemu. Kebetulan dia sedang ada acara dan menginap di Klepu. Aku menemuinya kira-kira jam 7.30pm. Sudah malam, iya sudah malam, tapi kusempatkan menemui dia.
            Kami hanya sedikit ngobrol di Pastoran yang lebih mirip hotel itu. Setelah itu dia mengajak makan diluar karena dia tidak begitu nyaman makan di sana. Klepu? Hhhm..itu jauh dari kota. Jauhh sekali. Dia bilang, di mana lah terserah, jl. Godean pun jadi. Aku udah lapar. Lalu karena tiba-tiba aku pengen sengsu, aku ajak dia cari sengsu. Biasanya di daerah Minggir itu ada sengsu. Dia manut2 aja. Lalu kami memacu motor kami masing2. Sudah malam, gelap, sawah2, jalan desa. “Heh..iki tekan ngendi? Kok sawah2? Ndeso banget!” katanya. “Hahaa…nggaya banget sih! Aku tidak akan menjerumuskanmu!” jawabku sambil tertawa.
            Kami menuju sengsu yang kumaksud, dan ternyata…deng..deng..sengsunya tutup! Hahaha…Aku sih tidak begitu kecewa, aku tidak begitu lapar juga. Lalu dia agak menggerutu dan marah, “Mana?” tanyanya. “Duh ternyata tutup. Gimana ni? Kamu meh maem opo?” tanyaku, dan aku bener2 gak enak. “Yaa terserah kowe wae. Manut aku.” jawabnya.
            Setelah muter2, akhirnya kami maem di penyetan, masih disekitar Minggir. “Iki sih jarak e wes kayak neng kota!” katanya. “Orak ya!” jawabku.
“Wes adoh-adoh, lewat pring-pring, mblusuk2, sawah2, ndeso banget, akhir e ming neng kene!”
“Heh, santeee loh. Nggaya banget sih! Sekali2 lah ben dirimu ora neng kota terus!”
“Kan aku mau ngomong, neng daerah jl. Godean yo rapopo, sik penting kita maem, trs iso ngobrol2 gitu!”
“Kan mau kita meh maem sengsu!”
“Kita? Kowe wae, aku sih orak! Egois e kw ki!”
“Halahhh…nggaya banget sih! Egois piye sih? Remuni mau terserah?!”
“Ra mbayangke aku nek pacaran, koyo ngene ki terus tak tinggal bali kowe!”
“Huakakak….untung kita ra pacaran ya! Yo kon nek arep tok tinggal bali!” jawabku sambil ngekek.
“Woo..racetho!”
“Huahaha..untung Mas Dika ra kayak kowe” jawabku masih sambil ngekek.
***
            Perdebatan kami hanya selesai disitu, lalu kami makan. Setelah makan kami masih ngobrol2 sampai malam. Dan ngobrol2 itu pun didalamnya juga ada perdebatan2 ra cetho kami.
***
            Ternyata, hanya masalah tempat makan aja kami berdebat kayak gitu. Duh, untung nggak sama Mas Dika, jangan2 nek dia yang ada diposisi temenku itu, dia yo marah2 (lebih parah paling). Dan, yaa..mungkin aku nggak boleh egois. *emang aku egois ya? Ahh..mbuh deh….

Senin, 25 Agustus 2014

Maybe...

Sometimes I think that I am the suffering once
I have so many plans
I have so many wishes
I have so many dreams
I have so many...
Ahgr... It seems that anything goes wrong.
It seems that the road is too abrupt.
It seems that I've made a flaw
Could I take my chance again?
hhm...
But, as the time goes by..
the thought comes up "It should be easy for me!" Yaa... "should be"
"I am the lucky girl" or "am I too lucky?"
Yes, I am the lucky girl but I can't be grateful

Kamis, 21 Agustus 2014

Hambar



Jam di dinding masih menunjukan pukul 05.20, tapi udara di sini sudah sangat panas. Kipas angin yang ada di kamarku rasanya juga kurang berfungsi. Aku masih duduk termenung di dekat jendela kamarku, sedangkan di luar sana sudah banyak anak-anak asrama dan umat yang sudah menuju Gereja untuk misa harian. Memang, tidak seharusnya aku justru duduk di sini, tapi aku capek. Capek sekali, rasa-rasanya ingin aku akhiri semua ini. Aku mulai capek dengan kegiatan sehari-hariku disini; bangun pagi, mengurus anak-anak asrama, misa tiap pagi, mendoakan dan membrikan komuni untuk orang sakit yang jaraknya sangat jauh, jalan hancur, dan kebanyakan melewati hutan, perkebunan karet, dan sawit. Maaf Tuhan, aku capek! Rasa-rasanya semua sudah hambar. Ahgr, kenapa juga aku harus mengambil tantangan untuk tugas di sini? Dan, apakah ini memang jalan panggilanku, Tuhan? Dua bulan lagi aku akan menerima kaul kekal,apakah aku siap? 
            Lamunanku terhenti, di luar sana aku melihat seorang gadis kecil dengan neneknya, mungkin. Iya, aku sering melihat mereka berdua misa bersama. Tapi, pagi ini beberapa kali mereka berhenti. Beberapa kali juga sang nenek duduk dan mengurut kakinya yang sudah mulai keriput. Dan si gadis kecil itu juga membantu mengurut kaki neneknya.
***
            Aku dan nenek ku sudah siap berangkat ke sebuah SD swasta. Di SD itu sering diadakan ibadat untuk orang tua, dan aku suka mengikuti nenek ku ibadat di sana. Ibadat di SD itu biasanya dipimpin oleh seorang prodiakon atau suster. Pagi itu cuaca agak tidak mendukung; hujan-panas. Di tengah perjalanan, tiba-tiba nenekku mengajakku untuk berhenti. Aku hanya menurut saja, ternyata kaki nenekku sakit dan sudah bengkak-bengkak. Waktu itu aku masih kelas 2 SD, aku bingung apa yang harus aku lakukan, jadi aku hanya membantu mengurut kaki nenekku. Setelah beberapa saat, nenekku mengajakku melanjutkan perjalanan lagi. Tapi, tidak lama kemudian, beliau mengajak untuk istirahat lagi. Entah berapa kali kami harus berhenti dan nenekku mengurut kakinya yang bengkak.
            “Nek, aku capek. Hujan-panas, udah siang juga. Gak usah jadi ibadat aja, Nek. Pasti udah telat juga kog”. Aku memang capek, kasihan pada nenekku dan rasanya juga sudah malas pergi ibadat.
“Ini masih pagi, Ci. Lanjut perjalanan saja ya, telat ibadat juga tidak apa-apa”.  Lalu nenekku dengan susah payah berdiri. Ak tahu benar, nenekku tidak pernah mau tidak ikut ibadat dan menerima Tubuh Kristus. “Itu kekuatan abadi bagi kita, Ci”. Itu yang selalu nenek katakana padaku. “Tidak, Nek. Kita pulang saja. Aci kasihan liat nenek, kaki nenek juga sudah bengkak-bengkak. Nanti biar suster datang mendoakan dan memberi komuni ke nenek saja. Yuk pulang aja Nek, Aci juga gak enak badan ni kena hujan panas.” Nenekku melihatku, mungkin beliau kasihan padaku, lalu akhirnya kami pulang. Aku tahu, perjalanan pulang pun adalah sebuah perjuangan bagi nenekku. Beberapa kali kami masih berhenti, dan nenek mengurut kakinya yang semakin bengkak.
            “Kog sudah pulang, Ci?” tanya ibu ku yang melihat aku dan nenek sudah pulang. “Gak jadi ibadat, Bu. Kaki nenek sakit, bengkak-bengkak,” jawabku. “Nanti sore kita bawa ke dokter saja ya, Nek. Semoga nanti siang ada suster yang datang mengantar komuni, kan nenek biasanya selalu datang ibadat, kalau gak datang pasti nanti suster yang mengantar komuninya,” kata ibu ku.
            Hari sudah siang, tapi tidak ada suster atau prodiakon yang mengantar komuni untuk nenek. Minggu berikutnya nenek belum bisa pergi ibadat juga, dan aku pun juga tidak mau pergi ibadat atau ke Gereja tanpa nenek. Dan minggu itu juga tidak ada yang mengantar komuni. Hampir satu bulan berlalu, nenek belum bisa ikut ibadat, kakinya malah semakin parah. Dan selama satu bulan itu juga tidak ada yang mengantar komuni untuk nenek. “Mungkin suster dan prodiakon sedang sibuk, Ci” Itu yang selalu dikatakan ibuku.
            “Aci, kog kamu gak pernah ke Gereja?” tanya nenekku suatu hari. “Nenek juga tidak pernah ke Gereja,” jawabku santai. “Nenek kan sakit, kamu bisa ke Gereja bersama bapak-ibu kan?”kata Nenekku. “Ndak mau ah nek, maunya sama nenek,” jawabku.
            “Nek, kog gak ada suster yang ngantar komuni untuk nenek? Kemana aja ya susternya?” tanyaku. “Mungkin mereka sibuk,” jawab Nenek. “Tapi susternya kan gak cuma 1 nek, masak cuma datang ke sini, berdoa dan ngasih komuni ke nenek aja gak sempat?” tanyaku setengah protes. “Umat di paroki kita kan banyak, jadi tugas susternya juga banyak,” jawab Nenekku dengan sabar.
“Ah pasti mereka malas-malas aja”
“Hush, gak boleh kayak gitu, Aci!”
“Besok kalau sudah gedhe, Aci mau jadi suster, biar setiap hari bisa mendoakan dan mengantar hosti untuk nenek.”
“Loh kalau Aci sudah jadi suster, memangnya nenek masih hidup?”
“Masih lah Nek! Aku mau jadi suster yang ramah, rajin, pinter, cantik, suka menolong. Terus kalau jadi suster kan bisa pergi kemana-mana. Hahahaa…..” kataku sambil tertawa.
“Bener ya, Ci? Tapi kalau jadi suster itu juga harus bisa mengajar, harus sabar sama anak-anak, harus bisa masak juga. Aci bisa kah?”
“Bisaaaa semuaaaa lah, Nek! Aku pandai memasak, nyuci piring, ngepel lantai, aku juga suka main sama anak2 bayi,” kataku mantab.
“Aminn. Ini hari Minggu ya Ci, harinya Tuhan, jadi semua kata-katamu pada hari ini adalah doamu. Semoga terkabul ya, Ci,” kata Nenekku sambil mengurut kembali kakinya.
***
            Dua bulan telah berlalu. Nenek belum sembuh juga, malah semakin parah. Dan, pada akhirnya nenekku meninggal. Selama hampir dua bulan itu tidak ada suster atau prodiakon yang mengantar komuni untuk nenek. Mereka sibuk, ya mungkin sibuk. Entahlah aku tidak tahu, tapi yang kutahu adalah waktu itu aku emosi, marah, benci,kenapa hanya mendoakan dan mengantar komuni untuk orang sakit saja tidak bisa?? Sekali pun tidak sempat? Setelah kepergian nenekku, sempat aku malas ke gereja. Tapi bapak ibu ku menasaehati ku macam-macam, dan akhirnya aku mau kembali ke gereja. Bahkan aku menjadi cukup aktif dalam kegiatan-kegiatan gereja. Aku ikut menjadi misdinar (sampai kuliah aku masih tugas misdinar), ikut OMK, dan ikut menjadi pendamping PIA. Hingga akhirnya, selesai kuliah, keinginan dan doaku waktu kecil muncul lagi. Awalnya bapak dan ibu keberatan, maklum lah, aku anak bungsu dari 3 bersaudara. Tapi, pada akhirnya bapak ibu merestui niat ku itu dengan satu wejangan “Jadi lah suster yang baik, tapi hanya baik pun tidak cukup! Bertanggung jawablah pada pilihan dan panggilan hidupmu!”
***
            “Hayoo suster jangan melamun!”
            “Suster…ayo berangkat ke Gereja”
            “Susterrr….”
            Tiba-tiba sapaan anak-anak SD dan beberapa anak asrama yang hendak ke Gereja membuyarkan semua lamunanku, kegelisahan, kebimbanganku, dan kegalauanku.
            “Iyaa…duluan aja sana!” jawabku sambil tersenyum.
            Diluar sana matahari semakin terik, nenek dan gadis kecil tadi sudah tidak terlihat. Mungkin mereka sudah sampai di Gereja, atau pulang ke rumah? Entahlah, aku tidak tahu, tapi hati kecilku mengatakan bahwa nanti aku harus menjenguk nenek itu. Aku percaya ini memang jalanku dan dari awal ini memang pilihanku. Mungkin aku hanya capek saja, iya, semoga aku hanya capek saja!
            Jam di dinding menunjukkkan pukul 07.30. Ahh…seharusnya aku sudah siap-siap untuk misa yang kedua. “Tuhan, kuatkan dan teguhkan imanku dalam menjalani panggilan ini. Aku yang memilih jalan ini, sampai detik ini Engkau merestuinya, aku akan berjuang dan aku yakin Engkau memberkati segala perjunganku ini. Tambahlah bumbu-bumbu yang pantas bagiku agar panggilanku ini tidak menjadi hambar, Tuhan. Terimakasih, Tuhan.”